ChitChat Q&A dengan Psikolog - Page 3
Page 3 of 10 FirstFirst 1 2 3 4 5 ... LastLast
Results 31 to 45 of 150
  1. #31

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Post Re: Q&A dengan Psikolog

    merisstp

    haii mba meri.. pasti banyak perkembangan yang pesat diusia neta saat ini ya. Secara umum, tidak ada kewajiban anak usia kurang dari 2 tahun untuk mengikuti pendidikan non formal dilembaga pendidikan tertentu, apapun itu bentuknya. Karena seperti pengalaman mba meri sendiri, anak usia batita kebutuhan tidurnya masih sangat banyak, karena secara kuantitas mereka masih membutuhkan kecukupan tidur kurang lebih 12-16 jam, dimana otaknya masih dalam masa perkembangan yang signifikan. Untuk mengasah kegiatan sosialisasinya, neta bisa diajak ke serangkaian situasi yang memungkinkan ia bertemu dengan teman sebaya misalnya bermain ke playground baik ditaman dekat rumah atau playground yang tersedia lengkap dipusat perbelanjaan. Jika mba meri menginginkan stimulasi yang terkait dengan kegiatan non formal, mba bisa mencari alternatif lembaga yang tidak mengikat dalam hal waktu terutama dari jam yang fleksibel , pemilihan hari, kuantitas jumlah hari yang harus diikuti. Setahu saya ada beberapa lembaga pendidikan non formal untuk toddler, yang memberikan alternatif waktu secara fleksibel pada anak sehingga tidak mengurangi kualitas tidur anak. Ada juga yang biaya administrasinya di bayar per kedatangan, sehingga tidak mengikat, karena sewaktu-waktu anak dalam keadaan tidak mood untuk mengikuti kegiatan.

    Jadi, jangan sampai kita sebagai orangtua mengejar perkembangan anak terkait sosialisasi, namun mengorbankan hal lain yang lebih penting diusianya saat ini. Jadi biarkan saja Neta tetap memiliki pola tidur seperti saat ini, sementara mba meri mencari alternatif kegiatan sosialisasi lain dengan waktu yang lebih luwes. Dari pengalaman saya sebagai konselor sekolah setingkat taman kanak-kanak, batita yang dipaksaan untuk mengikuti kegiatan ketika mentalnya belum siap, hal itu akan menyebabkan anak menjadi rewel dan tantrum serta dapat menimbulkan efek trauma terkait dengan sekolah. Mba meri bisa saja mengkondisikan Neta dengan kegiatan dirumah dijam-jam dimana Neta biasanya tidur, kemudian observasi reaksinya. Umumnya si 1,5 tahun akan rewel dan kesal. Secara alamiah, waktu tidur anak akan berubah dan berkurang sejalan dengan perkembangan usianya dan banyaknya aktivitas sehingga lambat laun di usianya 6 tahun waktu tidurnya mencapai 10.

    Selamat mengasuh ya...Hidden Content
    Last edited by sugarenspice; Dec 24, 2013 at 10:05 AM. Reason: remove quote

  2. #32
    Resident
    Join Date
    Sep 24, 2010
    Location
    Bekasi
    Posts
    324
    Mentioned
    6 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Hai hai Mbak Irma,

    hm... kalau saya mau bawa anak saya buat konsul dimana? lalu bagaimana sih metodanya,apakah mbak irma akan meminta waktu komunikasi langsung dengan anak saya? tapi kalo anak saya termasuk yang slow to warmth up butuh berapa kali ketemu?

    sebenarnya ga ada masalah yg besar sih,saya cuma ingin tau apa yang sebenarnya dia rasakan, apakah dia merasa happy selama ini. anaknya umur 3 tahun,sudah bisa diajak komunikasi. dia sudah hampir 8 bulanan ini saya masukan ke daycare,dengan sebelumnya masuk dulu ke playgroup selama 1,5 jam. sebenarnya dia senang.kalo pulang sekolah nyanyi-nyanyi, tapi kalau ditanya dia suka sekolah,jawabannya selalu enggak. trus... suka sayang-sayang adeknya (14bulan) tapi bisa out of the blue cubit cubit adeknya, headeeeuhh...

  3. #33

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Post Re: Q&A dengan Psikolog

    [QUOTE=sarie78;3610523]

    Dearest mba Sari, menghadapi anak remaja yang sedang dimasa puber memang gak gampang. Istilah yang tepat mungkin saya bisa ilustrasikan seperti tarik ulur benang layangan, kalau semakin kita tarik maka benangnya akan tegang, tapi kalau kita ulur terus maka longgar dan akhirnya akan terbang melayang layang gak menentu arahnya. Itu gunanya komunikasi yang efektif dengan remaja mba, tarik ulur...Sebagai Ibu, mba harus peka dan jeli saat-saat atau situasi seperti apa, anak dalam keadaan yang tidak nyaman sehingga kita bisa waspada terhadap perilakunya yang seringkali diluar dugaan. Tahu kapan harus bersikap tegas, namun tahu juga kapan anda memberikan kebebasan. Anak-anak usia remaja awal seperti putra mba, memang masa yang kritis atau labil. Mereka kan sedang mencari jati diri, sehingga apa kata temannya atau kelompoknya lebih penting dibandingkan apa kata orangtunya. Apalagi, ia menganggap mba adalah Ibu Tiri, yang notabene dipikirannya bukan ibu yang mengandung dan melahirkannya. Mungkin sejak awal rasa hormat atau respect putra mba kepadanya mba memang kurang terbentuk dengan baik, bisa terjadi karena beberapa hal misalnya pengaruh lingkungan yang memberikan label negatif pada Ibu tiri, atau kesan awal yang mba buat memang belum optimal sehingga putra mba, memang kurang mau mendengarkan apa yang disampaikan.
    Masih banyak waktu untuk merubah perilaku, tetapi memang butuh usaha dan kerja keras dari mba sari dan suami untuk bisa mengarahkan putranya kepada perilaku yang positif. Pindah sekolah bukan menjadi solusi dan bukan issue utama dalam masalah ini, namun bagaimana kelekatan emosi dan komunikasi yang terjalin selama ini. Libatkan suami, karena ia adalah Ayah kandung anak-anak mba. Bagi peran, lakukan pendekatan personal Ayah dan Anak laki-laki. Secara sosial emosi, Ayah memiliki peran yang sangat kuat pada pembentukan emosi. Kalau mba saja yang mengambil alih semua peran, tentu rasanya lelah dan membuat jadi tidak sabar. Komunikasikan apa yang ia rasakan dan butuhkan, dengarkan apa yang ada dalam pikirannya. Tuntaskan apa yang selama ini jadi uneg-unegnya, mungkin selama ini perilaku negatifnya terjadi karena ada rasa marah, kesal, kecewa terhadap gagalnya pernikahan orangtuanya. Ada masalah yang belum terselesaikan, sehingga merambat ke hal lain yaitu pergaulan dan sekolah.
    untuk itu, coba deh mba sari ajak suami untuk bicara hati ke hati, cari waktu yang sangat nyaman. penolakan pasti terjadi, tetapi tidak ada salahnya lakukan pendekatan terus menerus sampai putranya mau diajak untuk bicara secara private.
    Selain itu, coba dekatkan diri pada kelompok temannya, ajak teman-temannya menginap atau sekedar makan siang dirumah. Hal itu membuat anda bisa mendekatkan diri secara pribadi dengan teman-temannya sekaligus membuat putra mba menjadi respect terhadap cara anda menerima temannya. Hidden Content Hidden Content

  4. #34

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Dear mba irma,anak pertama saya berumur 10 thn (perempuan).akhir2 ini nilai sekolahnya turun drastis dan juga tidak ada semangat untuk ke sekolah.selalu ada alasan yg menurut saya terlalu dibuat2.cuma karena temen2nya ngeledekin besoknya dia sudah ga mau ke sekolah.sampai nangis2 kalau saya paksa ke sekolah.apakah ada faktor karena baru mempunyai adik? (Anak kedua saya umur 1 thn selisih 9thn sama kakaknya).mohon pencerahannya ya mba..Tks

  5. #35
    Immigrant
    Join Date
    Sep 27, 2013
    Posts
    181
    Mentioned
    11 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Hallo mbak irma.mbak,aku ceritanya sedang mengusahakan utk mendapatkan hak asuh putri pertama saya.sempat hilang kontak 3 taun sama dia krn pihak mantan suami menghalag-halangi utk bertemu.akhirnya setelah bisa bertemu dia memanggil saya dgn sebutan "tante".tp krn ikatan kami sangat kuat,walaupun cuman sekali ktemu kami lgsg akrab.masalahnya adalah pihak mantan suami masih trs menghalang2i saya.saya coba utk ketemu anak saya kembali malah penolakan dari putri saya sendiri yg didapatkan.anak saya umurnya 8tahun.dia bilang takut ayahnya ga ada teman kl dia ikut atau bermain bersama saya,padahal ayahnya pun ada di luar kota.dia bilang ga usah datang2 lagi.saya tanya baik2 siapa yang mengajarkan dia berbicara spt itu,dia malah seperti ketakutan.kira2 jalan seperti apa yang hrs saya lakukan,saya sudah coba lakukan mediasi dengan baik,tp selalu penolakan yang saya terima.saya sadar betul smua anak butuh kasih sayang baik ibu maupun bapaknya.yang saya inginkan penyelesaian dengan cara yang baik dan damai,karena saya tidak suka paksaan apalagi kekerasan.mohon sarannya ya mbak.trimaksih banyak sebelumnya.

  6. #36

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Dear Mb Irma, anak saya usia 4,5 tahu, perempuan..saat ini sudah sekolah TK B, saya&suami berbeda pandangan, tahun depan, Insya Alloh, saya ingin masukkan dia di TK, tapi pindah tempat, suami, berkeinginan dia masuk SD..saya rasa, anak saya belum siap untuk masuk SD, mohon penjelasannya efek psikologi ke anaknya bagaiman kalo dia mengenyam pendidikan tidak sesuai dengan usianya.
    Hatur nuhun....

  7. #37

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Post Re: Q&A dengan Psikolog

    indah0707

    halo mba Indah...sebenarnya anak dianggap sangat perlu sekali dibawa ke psikolog untuk dilakukan observasi atau pemeriksaan jika sudah mengganggu dan menghambat fungsi kehidupannya sehari-hari sehingga kualitas hidupnya sebagai seorang anak kurang baik untuk tumbuh kembangnya. Anak usia 3 tahun sebenarnya sudah bisa untuk diobservasi, namun jika tidak ada masalah yang sangat berarti ya sebaiknya tidak perlu. Biasanya nanti ketika ia akan memasuki usia 5 tahun saat akan menentukan sekolah formal yang tepat baginya, barulah bisa kita lakukan pemeriksaan terkait kesiapan sekolah SD.
    untuk anak usia balita, biasanya yang dilakukan hanya metode observasi sederhana sambil bermain dan mengajaknya berkomunikasi. Jika dibutuhkan barulah anak diberikan tes-tes psikologis standar.
    Kalau masalah sekarang yang tiba-tiba mencubit adik, itu sebenarnya masalah yang umum terjadi karena pastinya ada rasa gemas, atau sayang dimana ia gak ngerti cara untuk mengekspresikan yang baik dan tepat. jadi memang tugas orangtua yang mengarahkan kakak untuk bisa mengekpresikan diri dengan tepat. Nah, sebaliknya kalau itu adalah ekspresi cemburu, sebaiknya orangtua harus aware...jangan-jangan memang perilaku yang ditunjukkan orangtua memang terlihat kurang proposional atau kurang adil sehingga muncul perasaan marah dan kesal pada kakak yang ditujukan pada adiknya. Coba lebih sering libatkan kakak pada saat kegiatan bersama adiknya, atau disaat adik sedang tidur, orangtua memanfaatkan waktunya untuk bermain bersama dengan kakak...Hidden Content
    Last edited by sugarenspice; Dec 24, 2013 at 10:05 AM. Reason: remove quote

  8. #38

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Senang sekali ada forum ini,
    Mbak Irma aku pgn curhat n mohon bantuan mbak,
    Saat ini aku 30th, pny dua anak cewek 3 thn pas n 3,5bln. Dl aku kerja dr anak pertama umur 1thnan n resign pgn jd FTM stlh anak kedua ini. anak pertama ini cantik, cerdas, ceria n mulai cukup mandiri, smp lahir adeknya mulai berubah.Tyt tak semudah yg ak kira,krn skrg anakku yg besar jd manja n kolokan bgt mbak.dr awal2 lahiran adeknya bs tiap hari nangis jejeritan berjam2 bnr2 ky kerasukan gt ngamuk2.tp ak wkt itu msh santai krn mikirnya pst akan sgr hilang n baby wkt itu msh anteng sekali jd bs pegang kk nya, oya ak msh tinggal dgn PIL jd kakek neneknya jg ikt bantuin. Mslhnya mbak smp dgn hari ini kk nya msh aj kolokan apa2 maunya sm aku,mandi makan pipis even smp ngambilin mainan pokoknya hal2 kecil yg sblmnya dia bisa lakukan sndiri, spt pipis, ambil minum nyalain kmptr dll.ditawari sm yg lain gak mau hrs dirayu dl baru mau. Jujur sy sering marah n g sabar mba krn ngerasa kok ky kemunduran gini apa2 maunya dilayanin n ditemenin. Aplg kl adekya nangis or nen or mau tdr kk nya minta ini itu yg ada dua2nya nangis n aku kewalahan. Sering sekali aku ngerasa gak bisa ngejalanin peran ini,sering mengeluh krn bnyk hal yg ga bs aku kontrol (d rumah mertua ramai krn ada warung n ipar jg, pgn anak pertama bs mandiri n gak kolokan lg), sering susah tidur kl bgn pagi tu rasanya lelah aj n gak semangat,sering marah n kdg kelepasan pk tangan,nyubit kl anak bandel bgt. Ak pgn bgt bs blg I will enjoy this tp jujur aku blm bs mbak, mlh aku suka ngerasa sebel sm kk nya ini krn skrg jd tmbh nakal suka ngelawan gmpg ngamuk n cengeng,suka mukul jg Hidden Content .. Kdg kasian jg krn ak ngerasa cinta buat anak ini kok ky berkurang. Aku emg orgya suka kepikiran hal2 kecil n ga sabaran mbak, smp kata suami aku harus lbh ngalir nikmatin aj, tp susaaah mbak. Oya ak jd susah tdr mbak pdhl ud capek n ngantuk, n bbrp kali kl pas high pressure aku suka mukul2 muka sendiri, biasanya kl mlm2 mw nidurin kk nya tp pk acara nangis n baby ikutan bangun n nangis jg. Aduh kyknya aku ni ga becus n ga ikhlas bgt ya jd ibu,org lain aj kyknya seneng2 n baik2 aj.oya nanti januari aku pindah kerumah sndiri ,no ART n aku berharap everything is getting better, n kk ud normal lg. Alhamdulillahnya suami aku sabar n gak nuntut bnyk sm aku n mau bantu jagain kk kl mlm aku mw nidurin baby.Biar aku lbh cool n calm gmn ya mbak krn sering bgt aku stress, n gmn biar anak pertama gak kolokan n emosinya lbh baik lg?kira2 masa spt ini berlansung smp brp lama mbak?apa dimasukin paud bs bantu ya mbak?kegiatan or mainan apa yg bgs buat dia?maaf ya mbak pnjg bgt,n mksh bgt u jawabannya
    Last edited by fina83; Nov 19, 2013 at 12:01 PM.

  9. #39

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Default

    Mbak irma, saya punya kk yang baru2 ini melahirkan anak kembar 2. Jadi total punya empat anak, usia 4 tahun, 3 tahun, dan si kmbar usia 3 bulan. Dia IRT n ngurus smuanya sendiri. Suamix juga aktif membantu kalau sudah pulang kantor.

    Yang jadi masalah, kk saya cerita kalau rasa prcaya dirinya sudah smakin berkurang. Karena aktifitasnya yang selama 6 tahun ini hanya berkutat di rumah. Jarang keluar karena kesibukannya sebagai IRT yg mengurus anak2nya. Padahal dia dulu orang yg aktif. Belum lagi, kalau ada teman yang menjenguknya n temanx memiliki pekerjaan yang sukses, katanya ia kerap mrasa cemburu n menyalahkan keadaan n nasib yg ia terima..
    Belum lagi quality time sama suami sejak kehamilan anak ke-2nya berkurang atau amat sangat jarang, ditambah mengurus si kembar. Menurutnya, komunikasi aktif yg terjaalin adalah saat suaminya bicara tentang bola/politik/krjaan ke dia. Oh iyaa BIL saya liat termasuk tipe yg cuek dan kurang romantis. Jadi saya liat mungkin kakak saya semakin depresi karena kurang sentuhan/belaian. Ia pun jujur mengaku, hubungan badan hanya sebagai rutinitas dan amalan sebagai isteeri.

    Menurut mbak irma, apa yang bisa saya lakukan untuk membantu kk saya? Apa menganjurkannya ke psikolog adalah langkah terbaik? Karena saya lihat ini lebih dari sekadar syndrome baby blue..

    Makasih mbak..
    Sebenarnya mau konsul juga, tapi nanti aja deh. Hehehehe..udah kepanjangan banget.

  10. #40

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Post Re: Q&A dengan Psikolog

    sofiaykhrisna

    Haii mba sofia, performa anak menurun disekolah umumnya bisa disebabkan beberapa hal, antara lain kompleksitas tugas belajar yang mulai meningkat (umumnya terjadi pada anak kelas 3-5) sehingga menimbulkan perasaan tegang dan kurang nyaman terhadap hal yang terkait dengan masalah sekolah. Kedua, adanya masalah dengan peers atau teman sebaya memungkinkan anak merasa diintimidasi sehingga enggan atau bahkan menolak ke sekolah. Apalagi diusia pre teen (9-11 tahun) umumnya konflik dengan teman, dianggap sebagai sumber masalah terbesar dan terberat dalam perkembangannya. Ketiga, adanya masalah dalam keluarga, adanya perubahan pola atau bahkan bertambah/berkurangnya anggota keluarga sehingga menimbulkan perasaan yang kurang nyaman.

    Menilik cerita mba sofi, saya lebih menduga hal itu terjadi karena permasalahan disekolah, yang memang rentan terhadap konflik teman sebaya. Untuk itu, yang harus mba sofi lakukan adalah berkomunikasi dengan guru kelasnya untuk menanyakan kondisinya ketika disekolah. Dengan berkomunikasi, guru akan lebih memahami kondisi anak sehingga akan lebih mendorong pada pendekatan personal untuk membuatnya merasa nyaman dan aman. Mba sofi juga perlu untuk menggali informasi dari teman-teman dekatnya, sehingga bisa menarik benang merah pemicu masalahnya. Kemudian, hal lain yang harus dilakukan mba Sofi adalah melakukan pendekatan psikologis kepada putrinya, sebaiknya dilakukan saat malam hari dimana ia sedang dalam keadaan nyaman sebelum tidur. Kualitas komunikasi yang baik, tanpa memberikan kritikan, bersikap subjektif, atau bersikap kasar, akan membuat anak menjadi terbuka. Usahakan untuk lebih banyak mendengar dibandingkan bicara, menggali informasi namun tidak bersikap menuduh. Yakinkan dirinya, bahwa setiap masalah yang dihadapi akan ada jalan keluarnya, karena ada Ibu dan Ayah yang akan mendukungnya.

    oh ya, jika memang terlihat ada tanda-tanda rasa cemburu kakak ke adiknya, cobalah untuk melakukan evaluasi. Jangan-jangan, selama ini tindakan mba sofi dan suami, mengarah pada keberpihakan kepada adik yang kecil. Hal itu juga bisa berpengaruh pada kondisi mental kakak, sehingga berupaya mencari cari cara untuk mencari perhatian orangtua. Demikian ya mba, semoga bisa memberi pencerahan...Hidden Content
    Last edited by sugarenspice; Dec 24, 2013 at 10:06 AM. Reason: remove quote

  11. #41
    Immigrant
    Join Date
    Mar 17, 2013
    Location
    Jakarta, Indonesia
    Posts
    119
    Mentioned
    19 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Dear mba irma,
    Masalahku kurang lebih sama spt fina83. Anakku 2 org hanya berjarak 1thn 4bln. Si kakak cewe hampir 2thn. Adiknya cowo 7bln. Si kakak posesif sm aku. Kalau aku gendong adiknya pasti tdk boleh. Sampai2 aku menyerah kasih asi ke adiknya. Pas 6 bulan aku stop. Soalnya setiap waktu menyusui aku hrs ngumpet2, kalau si kakak liat, dia pasti nangis. Bahkan tengah malam pun si kakak bisa bangun setiap aku menyusui. Pasti nangis lihat gak ada aku di kamar. Tp dia sayang sm adiknya, suka dipeluk, dicium. Sepertinya aku hanya boleh main sm dia aja. Sekarang apapun yg dia lakukan, pipis, mandi, semua deh harus ada aku. Tanganku dipegangin. Padahal dulu gak begitu.
    Sampai kapan ya ini akan berakhir? Aku jd kasian sm anakku yg kecil. Lebih banyak dipegang oleh BS drpd oleh aku, tidur pun sm BSnya. Huhuhu.. aku kadang2 suka sedih.. tp gak tau hrs gimana. Drpd semua nangis dan jadi heboh, si kakak tetap tidur sm aku.
    Apa ada trik2 untuk menghadapi ini bu irma? Atau ditunggu aja sampai si kakak normal sendiri?

  12. #42

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Hi moms, salam kenal semua Hidden Content

    Wah menarik sekali ya thread ini..apalagi ada psikolog keren yang siap menjawab semua pertanyan2 kita... tapi sejauh ini sih aku baik2 aja semua anak pertamaku yang lucu dan aku excited banget melihat tumbuh kembang ank pertamaku ini...

  13. #43
    Citizen le miel's Avatar
    Join Date
    Jul 18, 2010
    Location
    Jakarta & Chicago
    Posts
    1,022
    Mentioned
    44 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Q&A dengan Psikolog

    Dear mbak Irma,

    Masalahku mirip dengan fina83 dan agathly. Anak pertama umur 22 bulan saat adiknya lahir. Sejak adiknya lahir, si kakak jadi berubah karakternya. Yg tadinya tidak pernah cengeng, tidak pernah teriak-teriak, semenjak adiknya lahir setiap hari kakak pasti nangis, kalau mau sesuatu dan tidak dikasih dia teriak-teriak dan memaksa. Kalau dibilang tidak boleh, dia nangis. Yg tadinya sudah bisa bilang kalau mau pup/pipis, sekarang malah ikut-ikut adeknya pup/pipis di celana. Yg dulunya tidak pernah minta gendong, skrg maunya digendong.

    Bulan pertama adik lahir, dia sangat cemburu dengan adiknya. Pernah beberapa kali kepala adik dipukul saat saya sedang menyusui. Tapi hal ini sudah agak mendingan, tiap menyusu saya ajak dia cerita/nyanyi, saya ajar untuk sayang adik dengan mengelus kepalanya bukan memukul, saya sering bilang ke dia kalau pukul itu hanya untuk nyamuk. Yg lain mesti disayang-sayang, sejak itu tiap ketemu adik dia selalu elus/cium. Adiknya ganti popok pun saya ikut sertakan seperti membantu mamanya mengambil popok baru dll.

    Sampai sekarang kakak tidur dengan saya siang dan malam. Adik tidur dengan BS dan kalau malam si adik minum asip, pas saya lg menidurkan kakak saat siang juga si baby minum asip. Bisa dibilang saya jadi jarang menyusui baby hanya 3-4x dalam sehari.

    Yg mau saya tanyakan apakah cara saya ini sudah benar?
    Bagaimana cara mengatasi kakak yg skrg karakternya berubah (jadi cengeng, manja, dan suka berteriak kalau keinginan belum tercapai). Jika menangis dan tidak saya tanggapi, dia bisa menangis sampai muntah. Padahal saya pikir kalau dibiarkan dia akan capek dan berhenti ternyata ngotot nangis sampai muntah. Kadang saya coba alihkan perhatiannya agar dia berhenti nangis, kebanyakan berhasil tapi kalau saya lagi capek saya seperti tidak ada tenaga untuk mengalihkan perhatiannya, yg ada saya jd marah dengan dia terkadang saya jadi mencubitnya. Tapi apakah mengalihkan oerhatian adalah cara yg baik?
    Bagaimana menurut mbak irma hubungan saya dengan baby apakah kalau begini terus lama-lama baby akan semakin menjauh dari saya? Dan saya mau gak mau percaya dengan BS karena 1 malam dia bersama baby (kita kan gak tau sebenarnya BS kerjanya bgmn apakah perhatian dengan baby/tidak karena saya tidak bisa mengontrol karena harus bersama si kakak. kamar tidur pun berjauhan, 1 di bawah dan 1 di atas). Tiap kali saya iseng cek, selalu ada saja kelakuan BS yg saya tidak suka seperti ketiduran sehingga lupa memberi asip untuk baby padahal baby sudah gelisah tapi baby dibedong sangat keras (umur 2 bulan lewat skrg) sehingga tidak bisa bergerak, karena kalau bebas bergerak si baby akan sering nangis untuk minta minum. Dan BS sering meninggalkan baby saya sendirian agak lama biasa dia nunggu baby nangis baru dia datangi, pernah juga saya pergoki baby saya sudah nangis karena tertutup hidungnya oleh selimut, kadang bajunya sudah terangkat padahal di ruang berAC. Saya kasih tau BS pelan-pelan bahwa jgn sering ditinggal, hidungnya sdh terututp selimut lho/bajunya udah keangkat2 nanti masuk angin. Si BS hanya nyengir. Saya mau marah juga tidak bisa karena saya butuh si BS dan takutnya baby sya diapa-apain kalau saya marahin dia. Saya jd kasihan dengan baby karena tidak mendapat perhatian full dari ibunya. Kadang kakak bersama Bs dan saya bersama baby, tapi kakak jadi cengeng dan cari mamanya terus. bagaimana baiknya ya? Trims mbak Irma.
    Last edited by le miel; Nov 28, 2013 at 05:41 AM.

  14. #44

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Post Re: Q&A dengan Psikolog

    deenaa

    dear Mba deena, sayaa sangat prihatin dengan kasus yang sedang mba deena dan putrinya hadapi. Dari berbagai kasus yang pernah saya hadapi, untuk kasus hak asuh anak memang seringkali harus berhimpitan dengan ranah hukum, karena umumnya diawali dengan masalah awal yang dihadapi pasangan ayah dan ibu sampai akhirnya keputusan berpisah muncul dan memicu munculnya perebutan hak asuh.
    Dari sisi anak, pastinya ia mengalami trauma akibat perceraian, dan kebingungan sehingga mempengaruhi kualitas mental putri mba deena. Belum lagi, jika ada doktrin dari pihak lain yang ingin memanfaatkan keadaan sehingga putri mba deena menjadi ketakutan jika ingin bertemu. Hal itu tentunya akan berdampak buruk bagi perkembangan psikologis sampai kelak ia dewasa. Yang harus dilakukan mba deena adalah memulai kembali komunikasi yang efektif dengan mantan suami, jauhkan rasa marah dan kesal yang mungkin memang masih tersimpan secara tidak sadar dalam hati, bersikap "mengalah" untuk kepentingan putri mba deena. Meminta maaf dengan tulus dengan mantan suami atas apa yang pernah terjadi, karena kegagalan rumah tangga pastinya bukan hanya terjadi karena kesalahan satu pihak tetapi suami istri memiliki kontribusi pada pengalaman yang tidak menyenangkan tersebut. mengajak untuk berdikusi dengan mantan suami haruslah tulus dan pastikan juga bahwa tidak ada pihak lain dari mantan suami yang ikut serta. bagaimanapun tidak ada mantan ayah dan mantan ibu buat putri mba deena. Keduanya memiliki hak yang equal, demi perkembangan psikologisnya. Itu yang harus benar-benar dipahami oleh mantan suami. Jika mantan suami belum memiliki kepercayaan pada mba deena untuk berinteraksi atau memiliki kualitas waktu berdua dengan anak, tidak mengapa jika pertemuan dilakukan dengan pengawasan dari pihak mantan suami. Biarkan ia mengamati dan melihat interaksi mba deena dan anak, sehingga hal tersebut umumnya akan menggugah perasaan mantan suami.
    Jika sampai keadaan tidak kondusif antara mba deena dan mantan suami, tawarkan kepadanya jalan tengah untuk meminta sama-sama meminta bantuan profesional seperti psikolog anak, psikolog keluarga, pemuka agama yang mba kenal, keluarga yang sanat dekat dan memahami kondisi mba deena ataupun pengacara, untuk membantu menjadi mendiator pertemuan yang dilakukan atas nama kepentingan psikologis anak. demikian ya mba, semoga bisa memberikan insight...yakinlah putri mba deena memiliki cinta yang mendalam terhadap ibunya, yakin pula dengan doa yang tulus dari mba deena energy itu akan dirasakan anak sehingga ketika usianya bertambah ia akan menyadari bahwa ia memiliki Ibu yang luar biasa. Hidden Content
    Last edited by sugarenspice; Dec 24, 2013 at 10:06 AM. Reason: remove quote

  15. #45

    Join Date
    Jan 1, 1970
    Posts
    0
    Mentioned
    Post(s)
    Tagged
    Thread(s)

    Post Re: Q&A dengan Psikolog

    chipoet

    hai mba Ciput...sebenarnya sangat umum sekali terjadi adanya perbedaan pandangan antara ayah dan ibu dalam menentukan pendidikan anak. hal itu banyak terjadi pada pasangan muda, dengan anak pertama yang masih balita karena minim pengalaman. Jika dilihat dari cerita mba ciput, putrinya saat ini berusia 4,5 tahun duduk di TK B..jika memaksakan masuk ditahun depan, berarti ia akan masuk SD di usia 5,5 tahun. Mari dibahas yuk...
    dari teori perkembangan, yang dikategorikan usia sekolah (formal) adalah ketika anak memasuki usia 6 tahun - 12 tahun. Karena diusia tersebut anak memiilki serangkaian tugas perkembangan sekolah, sehingga tuntutan menjadi lebih besar dibandingkan ketika ia berusia balita. bayangkan saja jika ia masuk di usia 5,5 tahun, tetapi tugas perkembangannya belum masuk pada usia sekolah pastinya anak akan perlu ektsra usaha untuk mengikuti tuntutan lingkungan.
    Anak usia sekolah sudah harus siap secara fisik, mental, emosi yang cukup stabil, kemandirian, kedisiplinan dan memiliki motivasi yang cukup untuk menghadapi tuntutan yang lebih dibandingkan saat balita. Banyak kasus dilapangan, secara IQ anak dikategorikan sangat cerdas namun ternyata ketika dihadapkan pada tuntutan belajar di SD yang lebih kompleks dan terstruktur anak mengalami kesulitan, sehingga pada akhirnya anak perlu "kerja keras" untuk memenuhi tuntutan yang ada. Ternyata salah satu penyebabnya adalah usia yang kurang matang saat masuk SD. Beberapa masalah yang muncul karena ketidaksiapan mental anak diantaranya mogok sekolah, regresi (yang tadinya tidak mengompol, kembali mengompol), cemas atau insecure, kurang percaya diri, menjadi lebih agresif atau justru kebalikannya menjadi menarik diri dari lingkungan.
    Saran saya, jika memang betul ingin mengetahui apakah anak sudah siap atau tidak untuk memasuki jenjang pendidikan selanjutnya coba amati dengan lebih seksama perkembangannya terkait dengan keadaan fisik, mental, kemandirian (salah satunya toilet training) dan lain sebagainya yang dibutuhkan anak berada di sekolah formal. Selain itu, mba ciput dan suami juga bisa mengikuti observasi dan pemeriksaan psikologis untuk mengetahui profil psikologis anak dan mencari sekolah yang sesuai dengan profilnya tersebut. Atau anda dan suami, bersepakat untuk menunda masuk SD dan fokus pada perkembangan psikologisnya sehingga nantinya ketika ia memang sudah seharusnya masuk SD, anak tidak mengalami kesulitan berarti karena telah matang dan siap belajar. Semoga membantu yaah..salam buat si kecil..Hidden Content
    Last edited by sugarenspice; Dec 24, 2013 at 10:04 AM. Reason: remove quote

Page 3 of 10 FirstFirst 1 2 3 4 5 ... LastLast