Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya - Page 2
Page 2 of 10 FirstFirst 1 2 3 4 ... LastLast
Results 16 to 30 of 148
  1. #16
    NewcomerPermanent Resident daisuki99's Avatar
    Join Date
    Jan 15, 2013
    Location
    In The Sky
    Posts
    978
    Mentioned
    197 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Tipe -Tipe Investor Berdasarkan Risk Profile

    Saat mulai berinvestasi reksadana, biasanya nasabah akan diminta untuk mengisi kuesioner mengenai tipe investor seperti apakah yang kira-kira cocok untuk mereka. Hal ini berguna sebagai panduan kecil awal dalam berinvestasi.

    Dalam berinvestasi ditanamkan prinsip “Jangan memasukkan semua telur ke dalam satu keranjang” yaitu dalam kata lain diversifikasi atau berinvestasi sebaiknya ditanam pada beberapa jenis instrumen investasi. Penempatan investasi disesuaikan dengan masing-masing risk profile dan horizon investasi investor.

    Berikut adalah tipe-tipe investor berdasarkan risk profile:

    Investor Konservatif
    Umumnya tidak berani menghadapi kerugian dan ketidakpastian, sehingga cenderung memilih instrumen yang sangat aman dengan hasil yang sudah diketahui sebelumnya, seperti deposito. Kalaupun mempertimbangkan jenis instrumen berisiko seperti obligasi atau saham, hanya porsi kecil dari dana investasinya yang akan dialokasikan ke dalam instrumen berisiko.

    Investor konservatif akan memilih jenis investasi berpendapatan tetap misalnya deposito, pasar uang, reksadana pendapatan tetap dan obligasi.

    Investor Moderat
    Umumnya berani mengambil risiko yang lebih tinggi dan akan mempertimbangkan secara hati-hati jenis instrumen yang akan dimilikinya serta membatasi jumlah dana yang akan diinvestasikannya ke dalam instrumen berisiko hingga porsi tertentu.

    Investor moderat akan menempatkan dananya pada jenis investasi pasar modal mekuitas), reksadana campuran dan jenis investasi berpendapatan tetap dan dan sebagian kecil saham.

    Investor Agresif
    Memiliki keberanian menerima risiko lebih tinggi lagi, serta berani mengalokasikan sebagian besar dana investasinya pada instrumen berisiko.

    Investor agresif akan menempatkan dananya pada jenis investasi dominan ke saham (ekuitas).

    Note :
    Gaya seorang investor bisa dianalogikan dengan gaya menyetir di jalanan, khususnya di jalan tol. Kadang dengan agresivitas yang berlebihan seseorang bisa mencapai waktu tempuh yang lebih cepat namun bisa juga terjadi sebaliknya, bahkan berakhir dengan kecelakaan.

    Analogi ini sebenarnya paling tepat jika digunakan untuk mendefinisikan tipe seorang TRADER dan INVESTOR di bursa saham. Trader (kadang juga disebut sebagai investor jangka pendek) cenderung berpindah-pindah saham untuk mendapat hasil terbaik dalam waktu singkat sedangkan investor (jangka lebih panjang) cenderung lebih sabar, berorientasi jangka panjang dan hanya melakukan perpindahan jika diperlukan.

    Intinya, kenali gaya diri kita dalam melakukan investasi, dan lakukan dalam bidang atau jalur yang kita kenal dan yang membuat kita merasa nyaman. Setiap orang memiliki gaya dan preferensi sendiri-sendiri. Lakukan sesuai dengan gaya tersebut dan jangan meniru gaya orang lain karena belum tentu tepat untuk Anda.

    Sumber :
    Hidden Content
    Hidden Content
    Hidden Content
    Last edited by daisuki99; Jun 10, 2013 at 11:41 PM.

  2. #17
    NewcomerPermanent Resident daisuki99's Avatar
    Join Date
    Jan 15, 2013
    Location
    In The Sky
    Posts
    978
    Mentioned
    197 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Apa yang Terjadi Bila Manager Investasi / Bank Kustodian Bangkrut ?

    Oke, sebelum terjawab, kita harus tahu fakta-fakta berikut ini :
    1. Setiap reksa dana yang dikelola oleh Manajer Investasi didasarkan pada Undang-undang Pasar Modal No 8 Tahun 1995, serta dibentuk dengan akta notarial Kontrak Investasi Kolektif antara Manajer Investasi dan Bank Kustodian yang tidak terafiliasi dengan Manajer Investasi. Jadi, Kontrak Investasi Kolektif (KIK) adalah kerangka legal untuk reksa dana yang mengatur tata tentang tata cara pengelolaan reksa dana serta memastikan bahwa hak-hak investornya terlindungi.
    2. Manajer Investasi bertanggung jawab pada pengelolaan reksa dana. Semua asset reksa dana adalah sepenuhnya dimiliki oleh investor secara kolektif.
    3. Asset Reksa Dana dicatat dan disimpan dalam rekening khusus oleh Bank Kustodian serta terpisah baik dari asset Manajer Investasi (off balance sheet) maupun dari asset Bank Kustodian – dalam publikasi data di Bapepam, KSEI maupun media masa, asset ini disebut dana kelolaan (Assets under Management, disingkat AuM), karena memang asset ini adalah sepenuhnya milik investor, bukan bagian dari neraca MI maupun bank kustodian.
    4. Sesuai dengan namanya, asset ini adalah asset yang dikelola oleh MI (dalam hal ini MI menerima mandat sebagai pengelola dana) sedangkan bank kustodian diberi mandat untuk menyimpan kekayaan reksa dana dan melakukan administrasi pencatatan maupun monitoring terhadap pengelolaan dana oleh MI (termasuk dalam hal ini mengawasi apakah MI memenuhi peraturan mengenai reksa dana dari waktu ke waktu).
    5. Oleh karena itu, asset dari Reksa Dana terlindungi dari klaim kreditur jika terjadi sesuatu dengan Bank Kustodian maupun Manajer Investasi sebagaimana dijelaskan dalam Undang-Undang Pasar Modal dan Peraturan Bapepam & LK.

    Apa yang terjadi jika MI bangkrut ?
    Jika karena satu atau lain hal suatu MI tidak dapat melanjutkan lagi kegiatan usahanya, maka berdasarkan peraturan MI tersebut harus melaporkan ke Bapepam & LK. Bapepam & LK kemudian akan mencarikan MI lain yang bisa mengambil alih pengelolaan dana investor.

    Jika tidak, maka Bapepam & LK akan memerintahkan MI tersebut untuk mengirimkan surat kepada seluruh investornya mengenai rencana penghentian kegiataan usahanya dan memberitahukan mengenai prosedur pengembalian dana investor secara rinci. Barulah setelah seluruh kekayaan investor dikembalikan, MI tersebut bisa dilikuidasi. Ini berbeda dengan bank komersial yang membekukan asset jika terjadi rush atau penarikan dana besar-besaran, karena dana deposan adalah bagian dari neraca bank tersebut.
    Sumber : Hidden Content

    Lantas, Apa yang terjadi jika Bank Kustodian bangkrut ?
    Jika bank kustodian bangkrut maka reksa dana yang berada dalam kustodinya akan dipindahkan ke Bank Kustodian yang lain. Jika dalam kasus terjadi kegagalan melakukan redemption, itu lebih mungkin karena isi reksa dana tersebut tidak likuid (instrumen saham dan obligasinya sulit dipasarkan) sehingga Manajer Investasi tidak bisa membayar kewajban. Namun tidak ada kaitannya dengan Bank Kustodian.
    Sumber : Hidden Content ---> Ada di Bagian Comment

    Sekedar Informasi Berkaitan dengan Topik Ini ...
    Reksadana saham nyaris tidak bisa bangkrut, karena reksadana adalah terdiri dari kumpulan saham-saham unggulan penopang perekonomian negara Indonesia, seperti saham Unilever, Indofood, BRI, BCA, Mandiri, Astra, Telkom dan kawan-kawannya, yang dimana jika mereka bangkrut maka negara Indonesia juga pasti akan hancur. Jadi, investasi di reksadana saham bisa dikatakan sangat aman untuk jangka panjang (asalkan memilih di produk reksadana yang benar).
    Sumber : Hidden Content
    Last edited by daisuki99; Jun 9, 2013 at 01:19 PM.

  3. #18
    Elite Citizen
    Join Date
    Jun 30, 2010
    Location
    none of your business
    Posts
    3,106
    Mentioned
    443 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Menambahkan daisuki 99 tentang TIPE INVESTOR BERDASARKAN RISK PROFILE

    BAGAIMANA SAYA TAHU TERMASUK TIPE YANG MANAKAH SAYA?

    Quesioner Risk Profile Investor:

    Hidden Content

    (also in the link above: 6 Steps to Fortune - Langkah Memilih Reksadana)




    kalo ada yang nyoba ngeklik linl dan ternyata gabisa tolong PM saya ya jangan komen di thread ini thx

  4. #19
    NewcomerPermanent Resident daisuki99's Avatar
    Join Date
    Jan 15, 2013
    Location
    In The Sky
    Posts
    978
    Mentioned
    197 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Studi Kasus : Berinvestasi di Reksa Dana untuk Membeli Rumah

    Pertanyaan :
    Saya seorang mahasiswa.
    Saya mau tanya, dapatkah saya berinvestasi Rp 100-200 ribu per bulan di reksa dana?
    Dan di mana tempatnya? Supaya di usia 30 saya dapat memiliki sebuah rumah.

    Jawaban :
    Sebelum menjawab pertanyaan Anda, saya ingin menjelaskan sedikit mengenai sejumlah langkah yang dapat Anda lakukan dalam melakukan financial planning.

    Pertama, tentukan tujuan yang hendak dicapai. Di sini Anda jelas sudah menentukan tujuan ingin memiliki rumah pada usia 30 tahun. Saya tidak tahu usia Anda sekarang berapa, namun saya asumsikan saat ini Anda sekitar 20 tahunan. Sehingga tujuan anda secara spesifik adalah “dalam 10 tahun ke depan ingin memiliki sebuah rumah.”

    Yang selanjutnya anda perlu lakukan adalah tentukan harga rumah yang akan Anda beli. Ini penting untuk menentukan berapa uang yang harus anda sisihkan per bulannya. Katakanlah Anda ingin membeli rumah dengan kisaran harga Rp 200 juta. Sekarang tujuan Anda lebih spesifik, “dalam 10 tahun ke depan ingin memiliki sebuah rumah senilai Rp 200 juta.”

    Langkah Kedua adalah tentukan cara mencapai tujuan tersebut. Di sini Anda telah menentukan akan menyisihkan uang per bulan melalui reksa dana. Saya tidak tahu apakah Anda berencana membeli rumah tersebut secara tunai atau angsuran. Saya asumsikan Anda akan mengambil KPR. Sehingga yang Anda butuhkan adalah uang DP senilai Rp 60 juta (DP 30% sesuai aturan Bank Indonesia). Sekarang tujuan Anda menjadi “dalam 10 tahun ke depan ingin memiliki rumah senilai Rp 200 juta melalui KPR, dimana uang DP Rp 60 juta akan dikumpulkan melalui investasi di reksa dana.”

    Dan langkah Ketiga adalah menghitung berapa yang harus disisihkan. Di sini ada satu asumsi penting yang harus anda ambil yaitu berapa return per tahun yang hendak anda inginkan. Saya ambil contoh, dalam 10 tahun terakhir (Agustus 2002-Agustus 2012) return IHSG rata rata 24.8% per tahun. Sehingga jika Anda ingin mengumpulkan dana sebesar Rp 60 juta dalam 10 tahun ke depan dengan return rata-rata per tahun 24,8%, maka per tahun Anda harus menyisihkan dana sebesar Rp 1,8 juta atau Rp 155 ribu per bulan.

    Langkah Terakhir, tentukan instrument reksa dana yang Anda butuhkan. Langkah terakhir adalah memiliki reksa dana yang sesuai dengan profile atau kebutuhan Anda. Anda mengatakan dapat menyisihkan uang sekitar Rp 100 ribu hingga Rp 200 ribu per bulan (Setahun sekitar Rp 1,2 juta hingga Rp 2,4 juta). Saya asumsikan Anda mampu menyisihkan Rp 200 ribu/bulan atau Rp 2,4 juta/tahun. Maka untuk dapat mengumpulkan dana sebesar Rp 60 juta dalam 10 tahun, maka anda perlu mencari reksadana yang memberikan return sebesar 19.25% per tahun. (Sebesar 33,20% jika Anda hanya menyisihkan Rp 100 ribu/bulan.)

    Setelah mengetahui hal ini, maka Anda tinggal mencari reksadana yang rata-rata memberikan return antara 19,25% hingga 33,20% per tahunnya. Sekarang, tujuan Anda menjadi sangat spesifik, “Dalam 10 tahun ke depan ingin memiliki rumah senilai Rp 200 juta melalui KPR, dimana uang DP Rp 60 juta akan dikumpulkan melalui investasi di reksadana yang memberikan rata rata imbal hasil sebesar 19,25% hingga 33,20% per tahun.”

    Karena keterbatasan profesi, saya tidak bisa menunjuk suatu reksa dana. Namun banyak publikasi di majalah ataupun harian umum yang memberikan data ini. Atau anda bisa juga mencari informasi ini di sejumlah bank maupun sekuritas.

    Sumber : Hidden Content
    Last edited by daisuki99; Jun 9, 2013 at 01:19 PM.

  5. #20
    Gold
    Join Date
    Aug 24, 2012
    Posts
    63
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Pajak dalam reksadana
    sumber : blog rudiyanto Hidden Content

    Fasilitas bebas pajak inilah yang membuat reksa dana pendapatan tetap (Sebelum tahun 2005) dan reksa dana terproteksi (setelah 2008) menjadi pilihan utama investor. Per data Akhir November 2010, jumlah dana kelolaan terproteksi mencapai 44,09 triliun. Hanya sedikit dibawah reksa dana saham yang sebesar 44,34 triliun.

    Jadi, Bebas Pajak adalah istilah yang digunakan atas fasilitas pembebasan bayar pajak yang diterima oleh reksa dana. Bebas pajak hanya berlaku untuk instrumen obligasi. Jika reksa dana membeli saham atau menempatkan dana di deposito tetap diberlakukan pajak seperti investor pada umumnya. Fasilitas bebas pajak hanya berlaku bagi reksa dana 5 tahun pertama sejak penerbitannya. Hal ini menyebabkan ada reksa dana yang berganti nama setiap 5 tahun, hal ini bukan lantaran karena reksa dana mau jatuh tempo, akan tetapi melainkan jika namanya tetap sama, fasilitas bebas pajak tersebut tidak diterima lagi.

    Berdasarkan Peraturan Pemerintah R.I. No. 16 Tahun 2009 (“PP No. 16 Tahun 2009”), ketentuan bebas pajak akan dihapuskan secara pelan-pelan. Pemberlakukannya adalah sebagai berikut:

    Dari tahun 2011 – 2013 reksa dana dikenakan pajak 5%
    Tahun 2014 dan seterusnya dikenakan pajak 15%
    Dengan kata lain, per tahun 2014 sudah tidak ada lagi fasilitas pembebasan pajak bagi reksa dana. Dampak penghapusan bebas pajak bagi investor reksa dana lebih terasa pada reksa dana pendapatan tetap, reksa dana terproteksi dan reksa dana campuran yang berinvestasi di obligasi. dampak langsungnya adalah menurunnya tingkat imbal hasil yang diterima karena dipotong pajak atas kupon dan capital gain obligasi yang diterima reksa dana.

    BUKAN OBJEK PAJAK

    Jika istilah “Bebas Pajak” merujuk pada reksa dana dan investasi yang dilakukannya, maka istilah “BUKAN OBJEK PAJAK” merujuk pada investor dan investasinya pada reksa dana. Dengan berinvestasi, maka terdapat kemungkinan yang besar investor akan memperoleh keuntungan. Keuntungan tersebut merupakan penghasilan tambahan yang diperoleh investor dan seharusnya dikenakan pajak.

    Nah, khusus untuk reksa dana, keuntungan yang anda peroleh dari investasi dianggap “BUKAN OBJEK PAJAK”, artinya atas keuntungan tersebut anda tidak perlu membayar pajak penghasilan. Dalam bahasa yang lebih sederhana, jika anda berinvestasi di saham dan memperoleh keuntungan Rp 10 juta, maka anda harus membayar pajak penghasilan sesuai ketentuan pajak yang berlaku. Sementara jika anda berinvestasi di reksa dana dan memperoleh keuntungan Rp 10 juta, maka investor tidak perlu membayar pajak atas penghasilan tersebut karena sekali lagi, penghasilan dari reksa dana “BUKAN OBJEK PAJAK”.

    Kenapa dianggap bukan objek pajak, karena ketika Manajer Investasi dalam mengelola reksa dana melakukan kegiatan jual beli saham, mereka sudah membayarkan pajak atas keuntungan dan transaksiknya. Ketika mereka menempatkan dananya di deposito dan menerima bunga deposito. Bunga deposito sudah dipotong 20% sesuai dengan ketentuan pajak yang berlaku. Dengan kata lain ketika manajer investasi mengelola reksa dana, segala pajak yang timbul sudah dibayarkan oleh reksa dana. Jadi, jika pajak tetap dikenakan kepada investor reksa dana, maka terjadi pajak berganda. Pajak dibayarkan pada saat dana dikelola dan pajak dibayarkan lagi pada saat dana diterima investor. Oleh karena sebab itulah, penghasilan reksa dana dikategorikan sebagai “BUKAN OBJEK PAJAK”.

    Terkait permintaan akan NPWP ketika berinvestasi di reksa dana, sebetulnya merupakan persyaratan administratif dan bukan berarti anda akan dikenakan pajak atas penghasilan yang akan anda terima dari keuntungan berinvestasi di reksa dana. Jadi investor reksa dana tidak perlu terlalu khawatir karena HINGGA SAAT INI, pendapatan reksa dana masih “BUKAN OBJEK PAJAK”.

    ================================================== =============
    Apakah Setelah Dikenakan Pajak Reksa Dana Masih Tetap Menarik ?
    sumber : blog rudyanto
    Hidden Content

    Dalam pandangan kami, meski dikenakan pajak, reksa dana masih tetap menarik. Untuk jenis reksa dana berbasis obligasi yang dikelola secara pasif (reksa dana terproteksi) alasannya :

    1. Pengenaan pajak dilakukan secara bertahap, jadi hingga 2013, imbal hasil yang diterima investor tetap lebih tinggi dibandingkan investasi langsung

    2. Umumnya akses investor terhadap instrumen obligasi masih sangat terbatas. Imbal hasil dari obligasi setelah pajak, jika jeli, masih ada yang lebih besar dibandingkan dengan deposito.

    Untuk jenis reksa dana berbasis obligasi yang dikelola secara aktif dan reksa dana yang mencatatkan obligasi pada harga pasar (reksa dana pendapatan tetap, campuran dan ETF), alasannya :

    1. Keuntungan semata dari reksa dana tersebut tidak pada fasilitas bebas pajak akan tetapi juga pada keahlian manajer investasi mengelola portofolio. Dengan dukungan keahlian yang bagus dan ditopang oleh kondisi yang bagus pula, bukan tidak mungkin tingkat imbal hasil di atas hasil deposito.

    2. Pemilihan reksa dana tidak selalu dibagikan pada imbal hasil (return). Untuk investor yang profil risikonya lebih konservatif ataupun untuk tujuan diversifikasi, jenis reksa dana ini selalu bisa menjadi pilihan investasi.

    NB: lengkapnya ada di link ya... nyantumin kesimpulannya aja Hidden Content
    Last edited by bidadari_maniez; Jun 10, 2013 at 12:22 AM.

  6. #21
    Gold
    Join Date
    Aug 24, 2012
    Posts
    63
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    .
    Aturan Baru Reksa Dana 2013
    sumber : blog rudiyanto
    Hidden Content

    Reksa Dana Pasar Uang

    Berdasarkan aturan IV.C.3 yang baru, maka per 1 Januari 2013, reksa dana pasar uang:

    1.Perhitungan dan pengumuman NAB/Up yang sebelumnya selalu menggunakan harga Rp 1000 selanjutnya akan berubah mengikuti reksa dana konvensional yang bisa naik turun.
    2.Yang sebelumnya hanya boleh berinvestasi pada Efek bersifat Utang dengan jatuh tempo kurang dari 1 tahun menjadi boleh berinvestasi pada :
    -Efek Pasar Uang Dalam negeri
    -Efek bersifat Utang yang diterbitkan dengan jangka waktu kurang dari 1 tahun dan Efek Utang yang jatuh temponya tidak lebih dari 1 tahun
    -Reksa Dana Pasar Uang dilarang memungut Biaya Pembelian dan Biaya Penjualan

    Reksa Dana Campuran

    Point penyempurnaan pada reksa dana ini tidak banyak. Hanya 1 hal yaitu:

    Sebelumnya: Reksa Dana Campuran adalah Reksa Dana yang melakukan investasi dalam:
    -Efek Bersifat Ekuitas, dan
    -Efek Bersifat Utang
    yang perbandingannya tidak termasuk pada Reksa Dana Saham dan Reksa Dana Pendapatan Tetap (80%)

    Setelahnya : Reksa Dana Campuran adalah Reksa Dana yang melakukan investasi pada:
    -Efek Bersifat Ekuitas,
    -Efek Bersifat Utang, dan/atau
    -instrumen pasar uang dalam negeri

  7. #22
    Gold
    Join Date
    Aug 24, 2012
    Posts
    63
    Mentioned
    0 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    .
    Klasifikasi Reksa Dana Indonesia
    sumber : Hidden Content

    Secara umum, reksa dana dibagi menjadi reksa dana pasar uang, pendapatan tetap, campuran dan saham. Namun seiring dengan berkembangnya industri pasar modal di Indonesia, jenis reksa dana semakin banyak dan bervariasi. Reksa dana yang baru memiliki karakteristik yang berbeda dengan reksa dana konvensional sehingga rekomendasi berdasarkan profil risiko dan horison investasi menjadi kurang relevan. Seperti apakah klasifikasi reksa dana yang ada di Indonesia saat ini.

    Jika dilihat dari sejarah perkembangan reksa dana di Indonesia, jenis reksa dana yang berkembang pertama kali selain reksa dana konvensional adalah Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund). Reksa Dana terstruktur ini terdiri dari 3 produk yaitu Reksa Dana Indeks, Reksa Dana Terproteksi dan Reksa Dana Dengan Penjaminan. Salah satu keunikan reksa dana ini adalah adanya peraturan yang mengharuskan pencantuman nama indeks, terproteksi dan penjaminan dalam penamaan reksa dananya. Selain itu adalah lagi jenis reksa dana yang lain seperti REITs (Real Estate Investment Trust), ETF dan Reksa Dana Penyertaan Terbatas.

    Reksa Dana Terstruktur (Structured Fund)

    Reksa Dana Indeks (Index Fund) adalah reksa dana yang portofolio investasinya mengacu kepada indeks tertentu. Indeks yang dijadikan acuan bisa berupa indeks saham ataupun indeks obligasi. Perbedaan antara reksa dana indeks dengan reksa dana konvensional adalah reksa dana indeks mengambil strategi investasi pasif dengan menghasilkan tingkat return yang setara dengan return indeks yang ditirunya. Sementara, reksa dana konvensional mencoba mengalahkan indeks yang menjadi acuan dengan menerapkan strategi investasi aktif.

    Reksa Dana Terproteksi (Capital Protected Fund) adalah reksa dana yang berusaha memproteksi nilai investasi awal investasi investor. Mekanisme proteksi umumnya dilakukan dengan membeli instrumen surat hutang (obligasi) dan memegangnya hingga jatuh tempo (buy and hold). Sehingga kecuali obligasi yang bersangkutan mengalami gagal bayar, maka nilai investasi awal akan terjaga seutuhnya. Jenis reksa dana ini merupakan jenis reksa dana dengan dana kelolaan terbesar kedua setelah reksa dana saham. Banyak investor institusi yang memanfaatkan jenis reksa dana sebagai fasilitas penghematan pajak obligasi karena persentase pengenaan pajak yang lebih rendah (5% atas reksa dana vs 15% atas investor biasa).

    Reksa Dana Dengan Penjaminan (Capital Guaranteed Fund) adalah reksa dana yang menggaransi nilai investasi awal investor. Mekanisme garansi dilakukan dengan melakukan perjanjian dengan guarantor. Yang bertindak sebagai guarantor adalah perusahaan asuransi. Meski sudah diatur dari peraturan sejak tahun 2004, sampai saat ini belum ada Manajer Investasi yang menggarap jenis produk ini. Rumitnya mekanisme penjaminan dan berkurangnya potensi return akibat premi asuransi ditengarai merupakan penyebab kurang berkembangnya produk ini.

    Dari ketiga Structured Fund, hanya Index Fund yang bisa ditawarkan terus menerus seperti layaknya jenis reksa dana konvensional. Sementara itu, Capital Protected Fund dan Capital Guaranteed Fund memiliki masa penawaran yang terbatas.

    Exhange Traded Fund (ETF)

    Selanjutnya berkembang pula jenis reksa dana yang baru yaitu reksa dana yang unit penyertaannya dapat diperdagangkan di bursa. Di luar negeri, jenis reksa dana ini terkenal dengan sebutan ETF (Exchange Traded Fund). Reksa dana ini merupakan pengembangan dari jenis reksa dana indeks. Dengan prinsip yang hampir sama dengan reksa dana indeks, perbedaan utamanya adalah ETF dapat dibeli melalui pasar sekunder melalui broker atau langsung melalui Manajer Investasi. Sementara reksa dana indeks dan reksa dana konvensional lainnya hanya dapat dibeli melalui Manajer Investasi Langsung.

    Karena likuiditas merupakan salah satu kendala produk ini, maka dalam ETF dikenal satu pihak yang disebut dengan Dealer Partisipan. Dealer Partisipan adalah Anggota Bursa Efek yang menandatangani perjanjian dengan Manajer Investasi penerbit ETF untuk menjadi market maker. Yang dimaksud dengan market maker adalah pihak yang bersedia membeli atau menjual ETF pada harga yang telah ditentukan sehingga menjadikan instrumen tersebut mudah diperdagangkan (likuid). Mengingat karakteristiknya yang sangat mirip dengan reksa dana indeks, sebaiknya ETF dapat digolongkan menjadi reksa dana terstruktur.

    Reksa Dana yang mendukung Sektor Riil

    Investasi tidak selalu harus di pasar modal. Dalam rangka perluasan pasar, BAPEPAM-LK juga mengeluarkan peraturan yang memperbolehkan reksa dana sebagai salah satu alternatif pembiayaan sektor riil. Jenis reksa dana yang memungkinkan pembiayaan bagi sektor riil antara lain:

    Dana Investasi Real Estat (DIRE) atau di luar negeri dikenal dengan sebutan Real Estate Investment Trust (REIT). DIRE adalah wadah yang dipergunakan untuk menghimpun dana dari masyarakat pemodal untuk selanjutnya diinvestasikan pada aset Real Estat, aset yang berkaitan dengan Real Estat dan atau kas dan setara kas. Jadi jenis reksa dana ini dapat membeli real estate dalam bentuk tanah, bangunan, gedung ataupun saham dan obligasi perusahaan terbuka sepanjang diterbitkan oleh perusahaan berbasis properti.

    Jenis reksa dana ini amat berkembang pesat di negera tetangga seperti di Singapura namun masih belum dikembangkan di Indonesia. Salah satu keunikan dari reksa dana ini adalah adanya pihak penilai. Sebab jika aset yang dimiliki reksa dana berbentuk bangunan, tanah atau gedung yang sulit ditaksir nilai pasarnya, maka untuk kepentingan perhitungan NAB dilakukan oleh pihak penilai (appraiser).

    Kontrak Investasi Kolektif Efek Beragun Aset (KIK-EBA) atau dikenal dengan Asset Backed Securities (ABS) di luar negeri. KIK EBA secara sederhana adalah reksa dana berbasis aset keuangan seperti surat berharga komersial, tagihan kartu kredit, Kredit Kepemilikan Rumah, Kredit Kepemilikan Kendaraan dan lainnya. Jenis KIK-EBA yang berhasil diterbitkan di Indonesia adalah hasil kerja sama antara PT. Danareksa Investment Management, PT. Sarana Multigriya Financial dan Bank BTN, dimana KIK-EBA ini berbasis KPR yang diterbitkan oleh Bank BTN.

    Meski Kontrak Investasi Kolektif (KIK) mengacu kepada reksa dana, namun dalam prakteknya KIK EBA lebih diklasifikasikan sebagai obligasi karena sama-sama memiliki rating dan metode pembayarannya menyerupai obligasi amortisasi. Jika dikembangkan dengan baik, KIK EBA mampu meningkatkan likuiditas perbankan sehingga mampu menyalurkan kredit kepada lebih banyak orang.

    Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) adalah reksa dana yang menghimpun dana dari pemodal profesional dan selanjutnya diinvestasi pada portofolio efek. Portofolio efek yang dimaksud disini tidak terbatas pada instrumen pasar modal namun bisa juga pembiayaan terhadap sektor riil. Sedangkan yang dimaksud dengan pemodal profesional adalah investor yang memiliki kemampuan menganalisa risiko reksa dana. Dari sisi keuangan minimum investasi adalah Rp 5 milliar.

    Beberapa keunikan dari reksa dana ini adalah jumlah pihak yang terlibat dibatasi paling banyak 49 orang. Manajer Investasi sendiri juga dituntut melakukan penyertaan modal di dalam reksa dana yang dikelola dengan nominal Rp 5 milliar. Karena berinvestasi pada sektor riil, maka penilaian terhadap harga pasar dari aset yang bersangkutan tidak menggunakan metode nilai pasar wajar seperti reksa dana konvensional pada umumnya. Publikasi NAB juga dilakukan setiap 3 bulan sekali.

    Reksa Dana Konvensional

    Selain contoh di atas, sebetulnya jenis reksa dana konvensional yang terdiri dari jenis saham, campuran, pendapatan tetap dan pasar uang juga perlu klasifikasi yang lebih baik agar memudahkan dalam pengembangan industri. Pengklasifikasikan reksa dana sebaiknya dilakukan dengan membagi reksa dana konvensional menjadi 2 yaitu Reksa Dana Konvensional (Rp dan Dollar) dan Reksa Dana Berbasis Syariah.

    Dengan klasifikasi yang jelas, maka regulator dapat mengambil atau membuat kebijakan sesuai dengan industri yang ingin dikembangkan. Misalnya reksa dana dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok pertama sebagai jenis reksa dana untuk pendalaman pasar (market penetration) dan kelompok reksa dana kedua sebagai jenis reksa dana untuk pengembangan pasar (market development). Sebab keahlian dan regulasi yang dibutuhkan untuk kedua jenis reksa dana tersebut amat berbeda. Reksa Dana untuk pendalaman pasar adalah reksa dana yang berbasis Pasar Modal, sementara reksa dana untuk pengembangan pasar adalah reksa dana yang berbasis Sektor Riil.

    Reksa dana yang masuk dalam kategori market penetration antara lain Reksa Dana Konvensional baik berbasis US maupun Rupiah, Reksa Dana Syariah, Reksa Dana Terstruktur dan ETF. Sebab reksa dana jenis ini menambah pilihan keragaman investasi bagi para investor. Regulator perlu memperlonggar beberapa aturan dalam pembatasan investasi agar dapat lahir produk yang lebih kreatif namun juga tetap memperhatikan aspek keamanan.

    Reksa dana yang masuk kategori market development adalah reksa dana yang berkaitan dengan sektor riil yaitu REIT, KIK-EBA dan Reksa Dana Penyertaan Terbatas. Untuk mendukung sektor ini, regulator perlu memberikan gambaran kepada sektor riil untuk mempertimbangkan reksa dana sebagai salah satu sumber pembiayaan selain sumber konvensional lainnya seperti pinjaman bank, obligasi dan saham.

  8. #23
    Elite Citizen
    Join Date
    Jun 30, 2010
    Location
    none of your business
    Posts
    3,106
    Mentioned
    443 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default

    Enam Prinsip Utama Investasi - part 1


    Mengelola investasi anda adalah seperti memelihara taman yang indah, dimana Anda perlu mempersiapkannya mulai dari tanah yang subur hingga seperangkat alat yang baik.

    Seperti layaknya tanah yang memiliki kesuburan yang baik untuk memelihara tanaman, landasan yang benar dalam literasi keuangan akan memaksimalkan potensi Anda untuk mengembangkan portofolio investasi dengan sukses.

    Sebelum membuat keputusan investasi, Anda harus bertanya kepada diri sendiri apakah tujuan investasi Anda?
    1. Apakah kebutuhan dan aspirasi saya dalam hidup?
    2. Apakah tujuan dan sasaran keuangan yang perlu saya tetapkan untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
    3. Bagaimana caranya saya mengembangkan strategi investasi untuk mewujudkan tujuan tersebut?

    Setelah Anda menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, Anda akan menemukan bahwa menginvestasikan uang Anda dengan rencana terancang dengan baik dan menyeluruh dapat memberikan hasil yang memuaskan. Anda akan memahami lebih baik bagaimana uang Anda bekerja untuk Anda, dan keputusan-keputusan mana yang membantu Anda meraih tujuan keuangan Anda dan mana yang tidak.

    Enam Prinsip Utama Investasi:
    A. Mengevaluasi profil risiko Anda
    B. Mendiversifikasikan investasi Anda
    C. Menentukan pemilihan jangka waktu Anda
    D. Investasi berkala untuk keuntungan Anda
    E. Mulai berinvestasi dini dan menginvestasikan kembali laba Anda
    F. Secara teratur meninjau dan menyeimbangkan kembali portofolio Anda

    A. Mengevaluasi Profil Risiko Anda

    Profil risiko Anda adalah tingkat toleransi Anda terhadap fluktuasi positif dan negatif dalam portofolio investasi Anda.

    Anda perlu menentukan apakah Anda merasa nyaman dengan sejumlah volatilitas pasar yang wajar, atau apakah Anda lebih suka berinvestasi lebih tenang dengan volatilitas pasar yang lebih rendah.

    Anda harus bekerja bersama seorang penasihat keuangan untuk menetapkan profil risiko dan preferensi Anda. Setelah itu Anda baru dapat dengan yakin untuk memfokuskan pada pilihan-pilihan dan strategi investasi yang sesuai dengan tingkat kenyamanan dan tujuan keuangan Anda.

    Risiko versus tingkat pengembalian

    Risiko yang lebih tinggi tidak otomatis berarti tingkat pengembalian yang lebih tinggi. Investasi yang lebih berisiko dapat menyajikan kemungkinan tingkat pengembalian yang lebih baik, namun risiko yang lebih tinggi tidak menjamin kinerja yang baik dan malah dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang lebih rendah dan mengurangi investasi awal Anda.

    Penting untuk dicatat bahwa untuk mencapai tingkat pengembalian investasi yang lebih tinggi, dalam kebanyakan kasus, Anda perlu menerima tingkat risiko yang lebih besar dalam portofolio pilihan Anda.

    Banyak jalan menuju sukses

    Ketika membuat keputusan investasi, Anda harus berinvestasi pada tingkat dan kecepatan yang nyaman untuk Anda. Ada banyak strategi investasi yang berbeda-beda yang dapat Anda pilih untuk mewujudkan tujuan Anda. Keputusan investasi yang tepat adalah yang sesuai dengan profil risiko Anda, termasuk toleransi risiko Anda.

    B. Mendiversifikasi Investasi Anda

    Anda harus mengikutsertakan berbagai instrumen keuangan di dalam portofolio Anda ketika membuat keputusan investasi Anda. Dengan demikian, kinerja suatu investasi yang kurang baik akan diimbangi oleh laba yang dihasilkan pada investasi lain. Namun, Anda harus mencatat bahwa pengimbangan kerugian dalam investasi tertentu oleh laba dari investasi lain tidak selalu tercapai.

    Berikut ini adalah beberapa cara untuk mendiversifikasi secara efektif:

    1. Membangun sebuah portofolio yang meliputi berbagai instrumen keuangan, antara lain uang tunai, sekuritas atau derivatif, yang memberikan paparan ke berbagai pasar keuangan dan kelas aset.

    Jenis pasar finansial
    1. Pasar Modal, termasuk pasar obligasi dan pasar saham
    2. Pasar Uang, yang mencakup modal dan surat utang jangka pendek
    3. Pasar Derivatif, yang menyediakan instrumen untuk membantu mengendalikan risiko keuangan
    4. Pasar Valuta Asing
    5. Pasar Asuransi
    6. Pasar Komoditi

    Contoh kelas aset dan instrumennya
    1. Utang Jangka Panjang: Obligasi, Pinjaman jangka panjang
    2. Utang Jangka Pendek: Treasury Bill (surat hutang jangka pendek), Deposito Berjangka
    3. Ekuitas: Saham
    4. Valuta Asing: Valuta Asing Spot
    5. Real Estate
    6. Komoditi: Emas, Karet, Minyak Mentah, Gas Alam, Kopi, Kacang Kedelai

    2. Pemilihan investasi dengan tingkat risiko yang berbeda-beda, karena beberapa risiko ini mungkin saling mengkompensasi satu sama lain, sehingga dapat membantu menstabilkan (atau setidak-tidaknya membatasi kerugian pada) kinerja portofolio Anda.

    Contoh:
    Saham versus Obligasi Harga saham cenderung berfluktuasi, dan pembayaran dividen tergantung pada kinerja perusahaan dan kondisi pasar secara keseluruhan. Sebaliknya, harga obligasi umumnya lebih stabil, dan pemegang obligasi menerima pembayaran bunga yang teratur.

    Mengikutsertakan baik saham maupun obligasi dalam portofolio Anda akan menciptakan alokasi yang lebih seimbang dan tingkat pengembalian yang disesuaikan dengan risiko yang lebih baik.

    3. Mengikutsertakan investasi dalam industri yang berbeda-beda dalam portofolio Anda. Menyebar investasi Anda ke berbagai industri yang tidak saling terkait akan meminimalkan dampak dari risiko industri spesifik terhadap portofolio Anda.

    4. Hal-hal yang perlu di ingat saat mendiversifikasikan investasi anda:

    Bisa jadi sangat mahal dan sulit bagi investor individu untuk membangun sendiri portofolio yang terdiversifikasi dengan baik. Misalnya, ketika berusaha untuk mendiversifikasikan eksposur saham, investor perlu membeli lebih dari hanya beberapa saham yang berlainan; yang memerlukan komitmen keuangan yang besar dan dapat menyebabkan biaya transaksi yang signifikan.
    Ada kemungkinan membuat kesalahan dengan menjadi terlalu terdiversifikasi. Walaupun Anda dapat menjadi tergoda untuk membeli berbagai saham, Reksa Dana dan/atau instrumen lain, hal ini dapat membuatnya sangat sulit untuk mengelola dan melacak kinerja dari jumlah investasi yang demikian banyak.
    Oleh karena itu, Anda harus mempertimbangkan pilihan-pilihan yang lebih efisien untuk diversifikasi investasi. Misalnya, suatu investasi dalam Reksa Dana Indeks atau ETF dapat memberi Anda akses instan ke portofolio saham di dalam indeks yang terdiversifikasi dengan baik.


    Hidden Content bersambung ke part 2 below:
    Last edited by ladyprimadewi; Jun 10, 2013 at 04:26 PM.

  9. #24
    Elite Citizen
    Join Date
    Jun 30, 2010
    Location
    none of your business
    Posts
    3,106
    Mentioned
    443 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Enam Prinsip Utama Investasi - part 2

    C. Menentukan Pemilihan Jangka Waktu Anda, ada dua cara pemilihan jangka waktu yang dapat mempengaruhi tingkat pengembalian investasi Anda:

    1. Rencana Jangka Waktu:

    Investasi dapat berfluktuasi dalam jangka yang pendek, namun volatilitas tersebut dapat dikurangi apabila Anda memegang investasi tersebut dengan jangka waktu yang lebih panjang.

    Portofolio yang dikelola dengan baik cenderung menunjukkan laba yang lebih tinggi dalam jangka panjang dibandingkan jangka pendek. Namun demikian, portofolio yang dikelola dengan baik sekalipun tidak dapat menjamin laba dalam jangka waktu apa pun.

    2. Menentukan Waktu Masuk dan Keluar Pasar:

    “Membeli pada harga rendah dan menjual pada harga tinggi” mungkin terdengar seperti pedoman investasi yang baik, namun jika Anda berusaha “menentukan waktu masuk dan keluar pasar” (menangkap titik terendah di pasar untuk membeli dan titik tertinggi di pasar untuk menjual) akan mengakibatkan perilaku investasi yang berisiko dan akan menghasilkan laba yang lebih rendah dari perkiraan atau mengurangi jumlah pokok yang diinvestasikan.

    Tidaklah mudah untuk menentukan waktu masuk dan keluar pasar dengan “membeli rendah dan menjual tinggi”. Jika Anda berusaha melakukan hal ini, Anda bisa jadi malah melakukan hal yang berlawanan (yaitu membeli tinggi dan menjual rendah). Sebaliknya, jika keputusan investasi Anda adalah sekedar membeli dan memegang investasi dalam jangka waktu yang lebih panjang, Anda dapat mempunyai peluang untuk menerima tingkat pengembalian investasi yang lebih baik dari berpartisipasi dalam siklus kinerja pasar yang terbaik (di atas siklus kinerja terburuknya).

    D. Investasi Berkala Untuk Keuntungan Anda

    Ketika membuat keputusan investasi, Anda dapat menyimpan dan mengakumulasikan kekayaan Anda secara konsisten dengan menggunakan konsep Dollar Cost Averaging (DCA), yaitu komitmen untuk membeli sejumlah investasi tertentu secara teratur. Bila harga naik, lebih sedikit unit akan dibeli, dan bila harga turun, lebih banyak unit akan dibeli. Karena itu, biaya pembelian per unit akan dirata-ratakan.

    Dengan cara ini, Anda dapat membangun posisi investasi yang diinginkan dengan memasuki pasar secara berkala dan berdisiplin, sehingga menghindari komitmen untuk menginvestasikan seluruh modal sekaligus di muka, atau risiko menginvestasikan sejumlah besar uang pada saat yang tidak menguntungkan.

    Dollar cost averaging adalah cara yang baik untuk berinvestasi dan mengakumulasi kekayaan Anda secara teratur dan berdisiplin. Ini memungkinkan Anda untuk mengatasi volatilitas pasar dan menghindari berusaha untuk menentukan waktu masuk dan keluar pasar.

    Menginvestasikan sejumlah uang sekaligus (lumpsum) versus DCA:


    E. Mulai Berinvestasi Dini dan Menginvestasikan Kembali Laba Anda

    Kekuatan dari pelipatgandaan

    Anda dapat berpotensi untuk memaksimalkan tingkat pengembalian Anda dengan secara konsisten menginvestasikan kembali laba yang Anda terima ke dalam investasi Anda ketika membuat keputusan investasi Anda.

    Dengan demikian, Anda terus-menerus menaruh jumlah modal yang lebih besar untuk bekerja, dan pengembalian investasi Anda akan dilipatgandakan dan akan dimaksimalkan secara berangsur-angsur. Bila digunakan dengan baik, pelipatgandaan dapat membantu Anda meningkatkan sejumlah uang yang kecil menjadi jumlah yang besar dalam jangka yang lebih panjang.

    F. Meninjau dan Menyeimbangkan Kembali Portfolio Anda Secara Teratur

    Memastikan portofolio tetap sehat

    Sebagai bagian dari proses dalam membuat keputusan investasi Anda, Anda harus ingat untuk melakukan evaluasi dan penyesuaian portofolio investasi Anda pada tinjauan yang dijadwalkan secara teratur. Evaluasi dan penyesuaianini dapat membantu memastikan portofolio Anda tetap
    sesuai dengan profil risiko dan tingkat pengembalian yang Anda inginkan, serta berada pada posisi yang baik untuk mencapai target kinerja investasi Anda.

    Pada setiap tinjauan, tanyalah kepada diri Anda sendiri apakah situasi pribadi dan keuangan Anda telah berubah, dan apakah kinerja investasi dari portofolio Anda telah mempengaruhi tujuan Anda. Ketika memantau kinerja investasi Anda, hindari melakukan perubahan karena dorongan hati Anda (impulsif) sebagai respons terhadap fluktuasi pasar dalam jangka pendek (dan menanggung biaya transaksi sebagai akibatnya). Sebaliknya, pertimbangkan tujuan investasi dan rencana jangka waktu yang telah Anda tetapkan, sebelum memutuskan apakah sungguh-sungguh ada kebutuhan untuk menyeimbangkan kembali atau menyesuaikan kembali portofolio investasi Anda.


    sumber:
    Hidden Content [COLOR="Silver"]
    Last edited by ladyprimadewi; Jun 10, 2013 at 04:57 PM.

  10. #25
    Elite Citizen
    Join Date
    Jun 30, 2010
    Location
    none of your business
    Posts
    3,106
    Mentioned
    443 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    TENTANG TEKNIK MARKET TIMING


    Kapan Sebaiknya Profit Taking?




    Dear admins,

    Mohon maaf kalau terdengar membingungkan, saya mau tanya demikian, saya dari kemarin berpikir untuk redeem keuntungan saya...Namun saya selalu terbentur pemikiran seperti demikian:

    - Kita asumsikan saya masuk RDS dengan dana Idle, dan dana ini memang tidak ada rencana untuk dipakai (pure invest)
    - Semisal saya beli RDS dengan NAV 100, saya beli IDR 1 juta --> 10ribu unit
    - Pada saat ini NAV sudah menjadi 120 --> IDR 1,2 juta
    - Lalu saya beranalisa bahwa NAV akan turun sampai -/+ 110, namun akan bounce lagi menjadi lebih dari 120 bahkan mungkin 200

    PERTANYAANNYA, agar saya dapat maksimal me"rasa"kan profit saya:
    - Apakah sebaiknya saya redeem keuntungan saya? Kalau "iya" mengapa? kalau "tidak" mengapa?
    - Kalau "tidak", pada situasi sperti apa sebaiknya saya mulai me-redeem hasil investasi saya?

    Atas bantuannya saya ucapkan terima kasih.



    JAWAB:

    Saya tidak ingin menjawab iya atau tidak tetapi saya akan bercerita sedikit supaya bro atau sis dapat mengambil keputusan.
    Pertama tama ketika membeli reksadana harus ada tujuan (goal) keuangan, yaitu tujuan untuk apa dalam berapa lama berinvestasi di RD.
    Memang ada beberapa strategi yang digunakan dalam berinvestasi RD. Bisa didiamkan saja sampai waktu investasinya selesai, ada juga yang swing trader seperti Bro Passion U. Dalam kondisi ekonomi krisis tentunya jauh lebih baik bila dana yang sudah terbentuk di RDS diparkir dahulu di RDS money market, setelah kondisi membaik baru kembali ke RDS. Masalahnya kalau kita tidak pernah tau kapan (tepatnya) naik dan kapan turun walaupun sudah bisa diprediksi. Banyak sekali factor yang memperngaruhi naik turunnya investasi dengan komponen saham.

    Kalau Bro ingin merasakan profitnya, bisa saja dengan menggunakan strategi profit taking, setiap kali sudah mempunyai keuntungan yang sudah ditentukan, keuntungannya ditarik dahulu, dana yang akan diinvestasikan adalah dana dari modal awal.

    Setiap orang mempunyai tingkat kenyamanan tersendiri dalam berinvestasi RDS. Yang perlu di ketahui adalah profil dari bro & sis adalah profil yang suka swing swing, yaitu redemp parkir, subscript kembali, atau yang cuek aja atau suka yang profit taking.

    Saya mau cerita tentang pengalaman saya dalam kondisi minggu lalu yaitu ketika Obama mengumumkan tentang hutang Amerika yang belum bisa ditentukan plafondnya. Tidak perlu menunggu 2 atau 3 hari setelah pengumuman itu, bursa Amerika jatuh dan minus kurang lebih 5% dan tentunya diikuti oleh bursa seluruh dunia termasuk Indonesia. Saat ini saya panik, karena saya berinvestasi di RDS untuk anak saya sekolah yang akan digunakan tahun depan, sehingga uang yang di investasikan sudah terbentuk dalam jumlah XXX. Hari pertama turun saya langsung redemp semua RDS , ada yang saya redemp dan ada yang saya switch ke RDPT. Dalam 3-4 hari saya merasa beruntung karena RDS yang saya ambil 1 hari minusnya rata2 4%. (Oh ya… saya mencatat semua pembelian RDS saya sehingga saya bisa mengikuti kenaikan/penurunannya. Jadi ketika saya redemp catatan yang lama tidak saya buang, tetapi tetap ada dan saya lakukan perbandingan dengan RD yang baru saja saya pindahkan).

    Kemudian kondisi membaik, bursa Amrik dan Eropa mulai hijau, begitu pula dengan Indonesia, dan mulai akan membeli lagi, tetapi karena di RD mempunyai aturan untuk redemp T+5 ketika mau beli lagi uangnya blum masuk…heuheu, dan saya lakukan perbandingan dalam catatan, uang yang saya redemp dan switch dibanding misal tidak di redemp, maka hasilnya tetap lebih banyak dana yang tidak di redemp. Nah hal ini yang sulit diprediksi memang teori dan pelaksanaannya seringkali berbeda.


    tanya jawab, masukan, kritikan dan diskusi seru lengkapnya dari tulisan diatas silakan:
    Hidden Content

  11. #26
    Citizen fan's Avatar
    Join Date
    Feb 11, 2011
    Posts
    1,878
    Mentioned
    385 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    sekedar tambahan ga penting-penting amat utk market timing : saduran diambil dr artikel kontan.co.id Hidden Content

    Bagi investor, idealnya adalah membeli pada harga terendah sebelum rebound. Tapi, mustahil untuk mengetahui kapan harga sudah tergeletak di lantai. Hingga kini belum ada metode atau alat, termasuk juga technical analysis, yang bisa menebak dengan benar dan konsisten di mana titik terendah sebelum harga saham balik arah.
    Titik terendah tersebut lebih banyak ditemukan secara kebetulan. Sir John Templeton, investor legendaris yang terkenal dengan strategi “buy low, sell high”, berterus terang bahwa dia membeli saham tidak di harga terendah, dan menjual saham juga tidak di harga tertinggi. Warren Buffett-pun pernah berkhotbah, “It’s impossible to time the market.” Ingat nasihat Peter Lynch, fund manager legendaris, “Just because a stock goes down doesn’t mean it can’t go lower.”


    so, pls pertanyaan "harga udah di-bottom atau belum ya?" "Apakah harga sudah turun jauh?" "Sudah waktunya beli blom?" sebaiknya dikurangi atau klo bisa jangan ditanya deh, even Warren Buffet aja ga bisa jawab Hidden Content
    Last edited by fan; Jun 10, 2013 at 06:53 PM.

  12. #27
    Citizen waterblow's Avatar
    Join Date
    Jul 9, 2012
    Posts
    2,141
    Mentioned
    780 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    pertanyaan yang sering muncul soal NAB dan TOP UP

    ilustrasi: hari ini senin aku top up jam 9 pagi dapet NAB kapan ya? sama dengan yang ditulis di infovesta kah? ato yang mana?

    jawab:

    Setiap MI memiliki kebijakan yang berbeda, ada waktu top up maksimal jam 12/jam 1 siang untuk mendapatkan harga NAB yang sama, hari itu juga, semisal melakukan TOP UP hari senin jam 9 pagi, maka harga yang akan didapatkan adalah harga hari senin, yang mana harga ini akan muncul nanti, sekitar jam 9 malam via bloomberg atau keesokan harinya. Jadi kita tidak akan mengetahui secara real time harga NAB berapa yang kita peroleh ketika kita melakukan top up di hari tersebut.

    semoga mencerahkan. mohon masukannya jika ada yang perlu dilengkapi
    Last edited by waterblow; Jun 11, 2013 at 05:33 AM.

  13. #28
    NewcomerPermanent Resident daisuki99's Avatar
    Join Date
    Jan 15, 2013
    Location
    In The Sky
    Posts
    978
    Mentioned
    197 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Pilih Yang Mana : Beli Reksadana Lewat Bank atau Manajer Investasi?

    Lokasi manajer investasi atau MI yang belum tersebar merata di Indonesia menjadi salah satu kendala berinvestasi di reksadana.” ujar Eko Endarto dari Finansia Consulting.

    Tetapi tentu saja bukan bisnis, bila kekurangan itu tidak bisa diatasi. Itu sebabnya, MI bekerja sama dengan perbankan untuk melakukan penjualan.
    “Jadi untuk mereka yang kesulitan mencari MI, silakan ke perbankan, yang kini sudah banyak menjadi agen penjual produk investasi ini,” jelas Eko.

    Memang patut disayangkan belum semua cabang perbankan bisa menjual reksadana. Hal itu karena tidak semua cabang memiliki izin yang dibutuhkan.
    “Jadi, mungkin cabang perbankan dekat rumah Anda belum bisa menjual produk ini, tetapi bukan berarti Anda tidak boleh tahu bagaimana cara pembeliannya” tegas Eko.

    Nah, membeli reksadana langsung kepada MI dan perbankan pada dasarnya sama saja bagi kita sebagai investor. Misalnya, persyaratan standar sebagai dasar pembukaan akun berupa KTP, NPWP, alamat dan keterangan lain.

    Walau demikian, juga terdapat perbedaan di antara keduanya.
    Simak informasi berikut:

    1. Lokasi (Dalam artian nasabah ingin mendatangi kantor secara langsung.)
    • MI : Cabang terbatas.

    • Bank : Cabang banyak.



    • Tambahan :
      Dari sisi Akses. Cabang yang dimiliki oleh Bank umumnya tersebar ke berbagai pelosok di Indonesia. Bandingkan dengan Manajer Investasi yang umumnya hanya berpusat pada Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia seperti Medan, Surabaya, Semarang dan Bandung. Oleh karena banyaknya cabang tersebut, akses investor menjadi lebih gampang ketika ingin bertransaksi terutama ketika ingin memberikan formulir subscription dan redemption. Investor tidak perlu mengirim formulir tersebut ke Jakarta, cukup ke Cabang terdekat. Meski demikian, perlu anda ketahui juga bahwa tidak seluruh Cabang Bank melayani penjualan reksa dana. Umumnya hanya Cabang besar dan memiliki staf yang memiliki lisensi WAPERD saja yang bisa.


    2. Produk
    • MI : Terbatas hanya produk yang dikeluarkan MI.

    • Bank : Beragam dari berbagai MI.


    3. Informasi Produk
    • MI: Lebih lengkap karena MI adalah pemilik produk.

    • Bank: Seringkali kurang lengkap karena bank hanya sebagai agen penjual bukan pemilik produk.



    • Tambahan :
      Dari sisi keahlian si pemasar, meskipun telah mendapat izin WAPERD (Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana) dalam kesehariannya produk yang dijual bukan hanya reksa dana, tapi juga produk lain seperti Giro, Deposito, Tabungan, Personal Loan, KPR, Bancassuranse dan lain-lain. Dan oleh sebab itu, ada kemungkinan pengetahuan si pemasar akan produk dan situasi pasar modal tidak lebih baik dibandingkan oleh pemasar di Manajer Investasi yang pekerjaan sehari-hari hanya berfokus pada investasi dan pasar modal saja.

      Dari sisi target perusahaan, terkadang karena memiliki banyak produk, maka target yang ditetapkan tidak selalu atau dominan di reksa dana saja. Akibatnya, oleh si marketing, produk yang disodorkan ke investor belum tentu adalah reksa dana. Bisa saja produk Bancassuranse yang disodorkan kepada investor meskipun mungkin reksa dana juga bisa menjawab keinginan si investor. Berbeda dengan marketing Manajer Investasi yang hanya memasarkan satu produk saja.

      Kedua hal di atas, di sisi lain juga menjadi kelemahan tersendiri bagi Pemasaran melalui Manajer Investasi karena belum tentu produknya sesuai dengan kebutuhan investor. Misalnya berdasarkan situasi dan kondisi, ternyata produk investasi yang cocok untuk investor adalah deposito, sementara Manajer Investasi hanya menjual reksa dana saham, campuran dan pendapatan tetap. Jadinya ditawarkan produk Pendapatan tetap yang risikonya paling kecil meskipun belum tentu cocok untuk investor.


    4. Biaya Subscription / Redemption
    • MI : Bisa negosiasi khusus, bila Anda berinvestasi dalam jumlah besar atau reguler jangka panjang.

    • Bank : Kadang tidak bisa negosasi karena reksadana bukan produk bank.


    5. Pindah ke Produk Reksadana Lain / Switching RD
    • MI : Agak menyulitkan karena kita harus keluar dari MI lama dan masuk MI baru.

    • Bank : Relatif lebih mudah karena beragam MI dan produk terdapat dalam satu bank.


    6. Keamanan Berinvestasi
    • Investasi di reksa dana aman karena hartanya dijaga di Bank Kustodian. Namun potensi penyalahgunaan tetap ada kemungkinan terjadi mengingat yang namanya manusia selalu bisa menemukan celah untuk melakukan kecurangan yang memperkaya dirinya. Namun dari sudut pandang saya, penjualan reksa dana melalui bank melibatkan 2 unsur, kepercayaan investor kepada Manajer Investasi dan Kepercayaan investor terhadap NAMA BESAR Bank. Bagaimanapun juga kepercayaan adalah aset yang sangat mahal. Jika terjadi kasus yang melibatkan suatu reksa dana, saya berpendapat bahwa Bank Agen Penjual yang menjual produk reksa dana tersebut juga akan ikut turun tangan menangani masalah untuk menjaga nama baiknya.


    Sumber :
    Hidden Content
    Hidden Content

    More Info :

    1. Semua RD diterbitkan oleh MI. Namun tidak semua MI menjual RD sendiri dan tidak semua MI menjual lewat bank.
    • Contohnya, Panin menjual sendiri produk-produk RDnya, namun Schroder justru memilih menggunakan bank sbg agen penjual daripada menjual sendiri.



    • Trus mana yg lebih menguntungkan?
      Dari sisi investor retail, dua-duanya tidak ada ruginya. Hanya ada beberapa hal yg hrs dipertimbangkan.
      Membeli RD lewat bank memiliki keunggulan dimana investor memiliki banyak pilihan produk dari banyak MI.
      Kelemahannya, ada beberapa produk unggulan yg tidak dijual di bank. Contoh, Panin Dana Maksima (yg jadi idola tahun-tahun lalu).


    2. Sisi pertimbangan penting berikutnya adalah besaran setoran awal dan topup RD di bank dan MI.
    • Di beberapa bank, RD bisa dibeli dengan modal awal rendah, demikian juga dengan nominal minimum utk topup. Tapi tidak di semua bank yah.


    • Ada bank yang hanya menjual RD kepada nasabah prioritas sehingga setoran awal dan minimum topup pun dibuat tinggi
      Di MI, sebenarnya pembelian awal pun tidak begitu mahal, umumnya masih di bawah 1 juta dengan topup sekitar 250-500 ribu Rupiah.
      Sayangnya dalam penerapannya suka berbeda. Bahkan ada beberapa oknum penjual yg meminta setoran awal tinggi demi mengejar target. Sharing pribadi, saya pernah diminta 30 juta sebagai pembelian awal sebuah produk RD yang sebenarnya cuma mensyaratkan 1 juta Rupiah.



    • Darimana kita tahu besar setoran sebenarnya di MI?
      Dari website MI atau prospektus per produk. Disitu disebutkan dengan jelas.


    3. Dari sisi kepraktisan pembelian, saat ini rata-rata bank sudah menggunakan internet banking.
    • Sudah ada beberapa MI yang juga bisa seperti ini.
      Jika belum ada internet banking, RD via MI bisa juga dibeli lewat ATM. Slipnya tinggal di-scan atau difoto dan di-email.


    4. Bagaimana dari segi fee?
    • Relatif sama, berkisar antara 0.75%-2%. Ada produk yg gratis fee beli, tapi ada fee jual dalam periode tertentu.


    5. So, mendingan mana, lewat bank atau MI?
    • Tergantung tujuan dan gaya investasi kita. Jika memang membidik RD tertentu, pilih pembelian reksadana lewat MI.

    • Jika ingin berinvestasi dengan banyak pilihan produk, pilih lewat bank. Anda bebas memilih RD yg akan dibeli setiap saat.

    • Saat performance 1 produk tidak begitu bagus, dengan mudah bisa melakukan topup dgn produk lain. Tidak perlu buka rekening baru.

    • Strategi saya (penulis : Pak Rudiyanto) pribadi? Dua-duanya, lewat bank dan MI. Bisa topup lewat banyak produk sekaligus bisa memanfaatkan RD dengan performance tinggi.


    Sumber :
    Hidden Content
    Last edited by daisuki99; Jun 10, 2013 at 10:32 PM.

  14. #29
    Elite Citizen
    Join Date
    Jun 30, 2010
    Location
    none of your business
    Posts
    3,106
    Mentioned
    443 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Sedikit tambahan tentang Market Timing


    Saya pribadi seneng kalo ngomongin market timing ini... asik dan deg degan hehe....

    oiya ini bener2 menurut opini saya pribadi lho ya

    market timing khususnya untuk reksadana saham bisa dilakukan:

    A.
    Ketika ada warning/prediksi (bukan berita ya karna berita itu sudah BASI... already happened...) bahwa pasar saham akan koreksi/jatuh/bearish, lalu kita meredeem profit dari RDS kita dengan tujuan menyelamatkan profit yang kita miliki dari nilai unit yang meningkat bulan ke bulan.

    B.
    Ketika ada warning/prediksi (bukan berita ya karna berita itu sudah BASI... already happened...) bahwa pasar saham akan koreksi/jatuh/bearish, lalu kita menambah dana (top up) sedikit demi sedikit ke dalam rds kita. dengan tujuan menginvestasikan uang kita pada rds tersebut ketika harga sedang diskon, sehingga ketika rds merayap naik lagi kita sudah 'beli' unit.
    analogikan seperti beli sepatu, tas, baju waktu diskon... rasanya puas kan? Hidden Content

    C.
    Kombinasi A dan B


    BAGAIMANA MENENTUKAN WAKTU UNTUK STRATEGI MARKET TIMING?

    I gotta admit, WE gotta admit... we are not expert.
    So, if we are not the expert, why not learn from ones?

    Saya sendiri sering baca blog dan twit pelaku pasar saham** (praktisi-bukan cuma analis tapi ga terjun di dalamnya). dan ada kok yang bisa kasih warning/prediksi --- bahwa market akan turun dan ini ADA TANDANYA... ADA GEJALA.... ADA FAKTOR2NYA... jadi mereka bukan ahli nujum yang ngomong bedasar penerawangan.
    anyway, biasanya warning tsb bukan 1 atau 2 hari tapi mingguan.
    jadi kita sebagai investor reksadana bisa siap2. either siap siap redeem atau siap siap top up atau keduanya.


    remember... memang market akan bull dan bear bisa diprediksi. tapi TEPATNYA KAPAN DAN TURUN SAMPAI BERAPA itulah yang kita manusia ga akan pernah tau.


    untuk menambah dana/top up dengan market timing, ga harus lumpsum/sekaligus jebret semua dimasukin, tapi bisa top up nyicil waktu NAB rds kita lagi diskon 3% (dibanding nilai tertinggi), lalu 5% beli lagi, lalu 8%, 10%, terserah, you decide. strategi DCA nya dipake lagi.. hehe
    WHY?
    ya tadi... kita gaktau TEPATNYA bottomnya dimana kapan harga berapa



    jadi market timing itu sangat bisa dilakukan.
    trader saham tuh, banyak yang pinter market timing. jadi bukan ga mungkin.



    apakah bedanya signifikan?
    lumayan signifikan
    terutama kalo investasinya di atas 5 tahun



    oiya btw
    saya pribadi melakukan yang strategi B.. jadi beli waktu diskon.




    QUESTION: KOREKSI/JATUH/BEARISH TU TURUN BERAPA BANYAK SIH?
    di atas 5% lahhh dan makin turun...
    seperti sekarang. IHSG tertinggi +-5200, sekarang udah +-4800... uda turun +-400point jadi hampir 10%.. dalam hitungan HARI
    sementara investasi kita di rds nambah 10% bukan dalam hitungan hari.
    oiya,
    kalo kaya 2008 turun 50% namanya krisis (cmiiw)


    ** saya biasa baca rencanatrading.com, menyimak tweet @andicamaro, @desmondwira, dan beberapa lagi banyak deh... untuk mengasah kepekaan bagus walaupun kadang belum paham apa yang dibicarakan but thats totally fine..








    BUT DO THIS WITH YOUR OWN RISK
    saya paliiiiing malasssss denger orang yang suka ngawur bertindak... terus nyesel...
    kalo uda ambil keputusan ya WAJIB TAU PAHAM RESIKONYA.
    maksudnya kalo uda terlanjur redeem eh ternyata malah gajadi turun... yaudah buat BELAJAR AJA... berarti belum pinter masih kurang peka.
    kalo uda terlanjur beli banyaaakkkk eh besok2nya turun banyaaakkk, yaudaaaahh gapapaa belajar juga. besok lagi ganti strategi

    OTHERWISE GAUSAH PAKE STRATEGI INI SAMA SEKALI.. MEREM AJA UDAH DCA.
    Last edited by ladyprimadewi; Jun 11, 2013 at 07:58 AM.

  15. #30
    NewcomerPermanent Resident daisuki99's Avatar
    Join Date
    Jan 15, 2013
    Location
    In The Sky
    Posts
    978
    Mentioned
    197 Post(s)
    Tagged
    0 Thread(s)

    Default Re: Info tentang reksadana - info only- no chitchat - chitchat di thread satunya

    Mendukung postingan ladyprimadewi di halaman sebelumnya dengan bacaan berikut Hidden Content .


    Market Timing vs Rupiah Cost Averaging

    Kebanyakan investor reksa dana melakukan investasi dengan metode market timing dan RCA.

    Market timing merupakan setoran di saat yang lebih selektif, yakni pada saat kinerja bursa sedang mengalami penurunan. Akibatnya, dengan masuk di saat tersebut, probabilitas peningkatan portfolio reksa dana bisa dicapai pada saat kinerja bursa kembali meningkat.

    Sementara RCA merupakan setoran rutin per bulan dari dana tunai yang dimiliki ke dalam portofolio reksa dana yang kita miliki.Strategi ini bagus untuk meredam fluktuasi pasar sekaligus memupuk nilai investasi secara periodik.

    Namun, kedua metode ini memang memiliki kelemahan masing-masing.
    Rupiah cost averaging, misalnya. Saat di mana Anda melakukan setoran rutin, misalkan tanggal 1 setiap bulannya, bisa jadi merupakan hari saat kinerja bursa sedang bagus. Akibatnya, nilai aktiva bersih reksa dana Anda sedang tinggi dan dana setoran rutin Anda hanya dapat membeli unit penyertaan dalam jumlah yang sedikit.

    Pada metode market timing, Anda memang dipastikan akan mendapatkan momen yang tepat untuk menambah portofolio reksa dana Anda, karena pasar sedang menurun dan Anda bisa melakukan pembelian reksa dana dengan harga nilai aktiva bersih yang murah. Anda pun akan mendapat unit penyertaan dalam jumlah yang banyak.

    Namun, apakah Anda selalu akan menemukan momen yang tepat? Apakah Anda sudah bisa membaca kapan pasar akan turun? Seandainya Anda menganggap pasar sudah turun, apakah benar pasar akan naik kembali?.

    Jangan Melakukan Timing Pasar
    Ketika pasar turun dan harga NAB reksa dana Anda anjlok, jangan mencoba melakukan timing. Biarpun analis dan pakar mengklaim mereka mampu meramalkan apa yang akan terjadi di masa depan, Anda tidak boleh percaya begitu saja. Tidak ada yang bisa meramalkan pasar – kalaupun ada, tidak mungkin melakukannya secara konsisten. Hal-hal yang memengaruhi kejatuhan pasar seperti bencana alam, serangan teroris, krisis ekonomi, hampir tidak mungkin untuk diantisipasi.

    Rupiah Cost Averaging
    Karena sulitnya meramalkan apa yang akan terjadi esok hari di pasar, hal terbaik yang bisa Anda lakukan adalah melakukan rupiah cost averaging. Saat harga NAB murah, Anda akan mendapatkan jumlah unit penyertaan yang lebih banyak. Ketika pasar kembali membaik dan harganya naik, Anda akan mendapatkan keuntungan yang cukup besar.

    Sebagai contoh, dua orang investor membeli reksa dana saham pada tanggal 1 Juni 2007, masing – masing sebesar 1,5 juta Rupiah. Pada bulan Agustus 2007, pasar jatuh akibat sentiment kasus subprime mortgage yang mengakibatkan harga anjlok.

    Investor pertama tidak melakukan tambahan setoran, sementara investor kedua secara kontinu menginvestasikan 500 ribu Rupiah selama 6 bulan ke depan. Pada akhir periode, nilai investasi yang dimiliki investor pertama kurang dari 1,3 juta Rupiah, sementara investor kedua sudah mengakumulasikan sekitar 6,2 juta Rupiah.

    Diversifikasi
    Ada baiknya Anda melakukan diversifikasi dalam berinvestasi. Misalkan Anda berinvestasi pada rekasa dana yang banyak menempatkan dananya pada sector pertambangan dan energi. Ketika harga barang tambang jatuh, Anda sebaiknya mendiversifikasi ke reksa dana yang menempatkan dananya pada sector lain dan tidak terlalu terkena imbas turunnya harga komodisi tersebut.

    Hal ini berlaku pula untuk investasi pada reksa dana internasional. Misalkan, investasi reksa dana Anda di Negara A sedang buruk, Anda bisa melakukan diversifikasi pada reksa dana di Negara B yang menawarkan potensi keuntungan yang lebih baik.
    Apabila Anda tidak tahan pada penurunan harga reksa dana, Anda bisa mendiversifikasikan portofolio reksa dana Anda dengan menambahkan komposisi reksa dana pendapatan tetap yang lebih stabil dan reksa dana pasar uang untuk melakukan balancing terhadap naik turunnya pasar.

    Cuplikan dari buku :
    Panduan Singkat dan Praktis – Memulai Investasi Reksadana by Nofie Iman (2008 – PT Elex Media Komputindo) Hal. 167
    Link : Hidden Content
    Last edited by daisuki99; Jun 11, 2013 at 12:51 PM.

Page 2 of 10 FirstFirst 1 2 3 4 ... LastLast